oleh

Awak Media Wawancara Mbah Jirah Saksi Perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman Di desa Bajulan

-TMMD-41 views

Nganjuk – Suasana Dusun Magersari Desa Bajulan Kec Loceret Kab Nganjuk saat ini nampak kelihatan ramai dengan banyaknya pasukan berbaju doreng. Kedatangan mereka tak lain untuk melaksanakan pengerjaan program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 109 yang dilaksanakan oleh Kodim 0810/Nganjuk. (07/10/2020)

Pelaksanaan TNI Manunggal Membanun Desa (TMMD) Reguler 109 Tahun Anggaran 2020 yang salah satunya dilaksanakan oleh Kodim 0810/Nganjuk diharapkan dapat membawa perubahan di segala bidang, sehingga warga desa tersebut dapat meningkatkan ekonomi keluarganya masing-masing seperti halnya dengan desa lain yang sudah lebih maju

Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) 109 di wilayah Kodim 0810/Nganjuk yang menyasar pada pekerjaan fisik meliputi peninggian Badan jalan P. 2.500 M, L. 3 M, Rutilahu serta kegiatan non fisik ini merupakan upaya TNI dalam ikut serta mengisi kemerdekaan serta memeratakan pembangunan bersama dengan pemerintah. Oleh karena itu, dalam pelaksanaan TMMD, persatuan dan kesatuan serta sinergitas diperlukan agar nanti kedepannya setelah selesai pelaksanaan TMMD dapat benar-benar membuahkan hasil yang baik dan tepat waktu.

Awak media Wawancara ibu Jirah Saksi perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman Di desa Bajulan

Perjuangan besar Jendaral Sudirman itu ditandai dengan replika rumah persinggahan dan sejumlah tempat lain yang pernah dibangun pada tahun 1949. kemudian diperbarui oleh Dinas Pariwisata Nganjuk sekitar tahun 1970-an. Lokasi tersebut berada di Desa Bajulan Kecamatan Loceret Kabupaten Nganjuk.

Di pesanggrahan itu, terdapat bekas tempat pertemuan para jendral dan pemuda Indonesia. Mereka menyusun strategi perang dalam mengusir penjajahan Belanda tahun 1949.

Perjuangan untuk merdeka dari penjajah itu saat keadaan lemah karena sakit paru-paru. Tetapi Sang Jendral tetap bertekad ikut terjun bergerilya walaupun harus ditandu.

Panglima Besar yang lahir pada 24 Januari 1916 itu terlalu lemah pada masa perang gerilya. Maka para pejuang mencari titik aman hingga ke Nganjuk yang saat ini diberi nama Desa Bajulan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed