NGANJUK, SRTV.CO.ID – Tradisi rutin tahunan yang biasanya digelar setiap bulan Maret tepat pada hari Selasa Pon ini, terpaksa diundur menjadi bulan April. Hal ini lantaran bulan Maret bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, sehingga pelaksanaannya disesuaikan agar bisa berjalan khidmat dan penuh makna.
"Sebenarnya larung ini merupakan pertanda awal mula dibukanya kuliner Baduk ini. Sebagai pengingat, pedagang melakukan larung sesaji juga sebagai syukur terhadap Tuhan," ungkap Pujianto, Ketua Paguyuban Pedagang Kuliner Kali Baduk, Selasa (14/4/2026).
Acara diawali dengan doa bersama di lokasi para pedagang menjajakan makanannya. Selanjutnya, seluruh pedagang berbaris membawa berbagai sesajen yang akan dilarungkan ke aliran Sungai Baduk. Prosesi ini dipimpin langsung oleh ketua paguyuban dengan penuh kekhusyukan.
Sesajen yang dibawa antara lain berupa ingkung ayam, pisang rojo, serta dupa sebagai pengantar. Semua benda-benda ini kemudian ditempatkan di atas rakitan yang terbuat dari batang pohon pisang, agar bisa hanyut terbawa arus sungai hingga ke tengah.
"Ritual budaya ini bukan sekadar tradisi semata, melainkan memiliki makna mendalam bagi para pedagang di Baduk ini. Sejak pertama kali dilaksanakan pada tahun 2004 hingga saat ini, keyakinan bahwa tradisi ini mendatangkan keberkahan dan kelancaran rezeki terus terjaga dan diwariskan," ungkapnya.
Di samping itu, Pujianto juga menepis isu yang beredar di masyarakat terkait harga makanan yang dianggap terlalu mahal. Ia memastikan bahwa kabar tersebut tidak benar dan hanya hoax belaka.
"Itu dibuat orang yang tidak bertanggung jawab, jangan kuatir di Baduk ini pedagang menjual dengan harga standart, tidak ngedrel," tandasnya tegas.
Editor : SRTVRedaksi