Singkap Esensi Malam Tirakatan Kemerdekaan di Kabupaten Nganjuk

Warga Kabupaten Nganjuk saat menggelar tradisi Malam Tirakatan Kemerdekaan untuk mengenang jasa para pahlawan menjelang peringatan HUT RI (Jamal/SRTV)
Warga Kabupaten Nganjuk saat menggelar tradisi Malam Tirakatan Kemerdekaan untuk mengenang jasa para pahlawan menjelang peringatan HUT RI (Jamal/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID -  Suasana sunyi nan khidmat merayap di berbagai sudut desa dan kota Kabupaten Nganjuk setiap tanggal 16 Agustus 2026 malam.

Di balik kilau nyala lilin dan hidangan tumpeng sederhana, warga berkumpul untuk merawat sebuah warisan leluhur yang terus bernapas lintas generasi: tradisi Malam Tirakatan Kemerdekaan.

Budayawan Nganjuk, Amin Fuadi, menjelaskan bahwa agenda tahunan ini memiliki sejarah panjang yang mengakar sejak era 1970-an.

"Jadi begini, tradisi malam tirakatan ini muncul pada era sekitar 1970-an. Pada era itu ada perintah untuk melaksanakan selamatan dan malam tirakatan," kata Amin.

Tradisi ini sejatinya berangkat dari budaya luhur masyarakat Jawa yang kerap memanjatkan doa saat menghadapi momen penting atau hajat besar.

Ritual ini ditujukan sebagai sarana memohon keselamatan, kelancaran, serta kebaikan dalam melangkah ke depan.

Meskipun kata "tirakat" secara harfiah mengacu pada laku fisik seperti mengurangi makan dan tidur, Amin menegaskan adanya pergeseran esensi pada momen Kemerdekaan RI.

"Malam tirakatan kemerdekaan itu tadi saya kira bukan kepada bagaimana mengurangi makan, mengurangi tidur, tidak. Tetapi tirakat dalam arti batin, ya. Pola pikir kita untuk flashback ke masa lalu," kata Amin.

Melalui ruang introspeksi ini, masyarakat diajak memutar kembali memori sejarah dan merenungi besarnya harga yang harus dibayar demi sebuah kemerdekaan.

"Dalam filosofinya tentu ini adalah menggugah kita semuanya untuk ingat bahwa perjuangan para pahlawan dulu itu tidak mudah. Tidak tiba-tiba dapat itu tidak, tapi sebuah proses dengan pengorbanan nyawa, harta, benda," kata Amin.

Mengakhiri penjelasannya, Amin menyampaikan pesan mendalam bagi generasi muda agar tidak sekadar menjadi penonton sejarah. Pemuda diharapkan mampu berpikir kritis menyikapi ancaman zaman sekaligus menjaga optimisme demi kelangsungan bangsa Indonesia.

Editor : SRTVRedaksi