Tangkis Dampak Kemarau Panjang, Wiwin Sumrambah Ajak Warga Jombang Tanam Kebutuhan Pangan

Tampak Wiwin Sumrambah, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur saat menyampaikan sambutan. Foto: Faiz.
Tampak Wiwin Sumrambah, Anggota DPRD Provinsi Jawa Timur saat menyampaikan sambutan. Foto: Faiz.

 

SRTV.CO.ID, JOMBANG – Ancaman musim kemarau panjang yang diperkirakan dipengaruhi fenomena El Nino mendorong masyarakat untuk mulai memperkuat ketahanan pangan dari lingkungan keluarga. Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, mengajak warga Kabupaten Jombang memanfaatkan pekarangan rumah dengan menanam berbagai tanaman pangan sebagai langkah antisipasi sejak dini.

Ajakan tersebut disampaikan Wiwin saat menggelar sosialisasi bertajuk "Penguatan Ketahanan Pangan dan Lingkungan" di wilayah Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Senin (20/7/2026). Kegiatan itu diikuti ratusan warga yang tampak antusias. Hadir pula Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Jawa Timur, Sumrambah.

Dalam sambutannya, Wiwin mengatakan perubahan cuaca ekstrem akibat musim kemarau berkepanjangan berpotensi memberikan dampak luas terhadap sektor pertanian, perekonomian masyarakat hingga kesehatan.

"Biasanya ketika cuaca mulai terasa ekstrem, dampaknya tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga perekonomian dan kesehatan masyarakat. Karena itu kita harus mengantisipasi dampak El Nino sejak sekarang agar tidak menimbulkan persoalan yang lebih besar," kata Wiwin Wiwin Sumrambah.

Politikus PDI Perjuangan itu menilai ketahanan pangan harus dimulai dari tingkat rumah tangga. Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah membiasakan menanam sayuran maupun tanaman kebutuhan dapur di sekitar rumah.

"Ketahanan pangan dan lingkungan kami jadikan tema utama karena pangan merupakan kebutuhan dasar setiap orang. Apalagi kita diperkirakan akan menghadapi musim El Nino yang dampaknya bisa cukup berat," ujarnya.

Menurut Wiwin, perubahan iklim berpotensi memengaruhi produktivitas pertanian sehingga masyarakat perlu memiliki kemampuan memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri. Ia mendorong warga memanfaatkan lahan kosong, halaman rumah, hingga media tanam sederhana untuk membudidayakan berbagai jenis sayuran.

"Kalau setiap keluarga bisa menanam cabai, tomat, bayam atau sayuran lainnya di rumah, setidaknya ada kebutuhan dapur yang bisa dipenuhi sendiri ketika harga di pasar mengalami kenaikan," tuturnya.

Selain membantu mengurangi beban pengeluaran rumah tangga, gerakan menanam di pekarangan juga dinilai memiliki manfaat bagi lingkungan. Menurutnya, semakin banyak ruang hijau di kawasan permukiman akan menciptakan lingkungan yang lebih bersih, sejuk, dan nyaman.

"Gerakan ini harus dimulai dari lingkungan keluarga. Menanam dan menjaga kebersihan merupakan dua hal yang saling berkaitan. Kalau lingkungannya bersih dan hijau, masyarakat juga akan merasakan manfaatnya," katanya.

Wiwin menambahkan, tantangan sektor pangan ke depan tidak hanya dipengaruhi perubahan iklim, tetapi juga produktivitas pertanian yang belum sepenuhnya pulih. Kondisi tersebut perlu diantisipasi melalui keterlibatan aktif masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan pangan dari pasar.

Ia mengingatkan sejumlah komoditas kebutuhan pokok mulai menunjukkan tren kenaikan harga. Apabila musim kemarau berlangsung lebih lama, tekanan terhadap produksi pertanian dikhawatirkan semakin besar.

"Beberapa kebutuhan dapur mulai mengalami kenaikan harga, hasil panen petani juga belum maksimal, sementara kita akan memasuki musim kemarau yang diprediksi berlangsung cukup panjang. Karena itu mari bergotong royong mengantisipasi dampaknya sejak dini," ujar Wiwin.

Berdasarkan pantauan di lokasi, sosialisasi berlangsung interaktif. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan mengenai strategi menjaga ketahanan pangan keluarga, teknik budidaya tanaman di pekarangan, hingga upaya pengelolaan lingkungan di tingkat desa. 

Lanjut kemudian kegiatan ditutup dengan doa bersama dan ajakan kepada masyarakat untuk mulai membangun kemandirian pangan dari lingkungan rumah masing-masing.

Editor : SRTVRedaksi