Nganjuk Dilanda Kekeringan Ekstrem, BMKG Ungkap Sudah Lebih dari 60 Hari Bumi Anjuk Ladang Tanpa Hujan

Reporter : Mahbub Jamal
Ilustrasi kekeringan ekstrem berdasarkan pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) BMKG (SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Kabupaten Nganjuk resmi memasuki fase kekeringan ekstrem setelah wilayahnya tidak tersentuh hujan selama dua bulan berturut-turut.

Kondisi memprihatinkan ini terungkap berdasarkan hasil monitoring Hari Tanpa Hujan (HTH) terbaru yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Kabupaten Nganjuk ini didominasi warna merah, artinya lebih dari 60 hari itu wilayah Nganjuk sudah tidak diguyur hujan. Nah, ini kalau dalam meteorologi sudah masuk dalam kategori kekeringan ekstrem," ujar Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris, Jumat (31/7/2026).

Anomali cuaca dan minimnya curah hujan di daerah dengan julukan Bumi Anjuk Ladang ini rupanya tidak hanya melanda wilayah Nganjuk. Peta pemantauan HTH menunjukkan bahwa fenomena kekeringan parah ini telah merembet dan meluas ke sejumlah daerah pendukung di sekitarnya.

"Kalau dilihat dari peta hari tanpa hujan, untuk wilayah Jawa Timur bagian tengah dan bagian barat mulai dari Jombang, Kediri, kemudian Nganjuk sampai ke Ngawi, Magetan, Bojonegoro, Tuban ini didominasi warna merah antara 30-60, kemudian ada yang di atas 60 jadi memang sudah memasuki fase kering," jelas Setiyaris.

Kendati sebagian besar Jawa Timur bagian tengah dan barat dikepung zona merah kekeringan, BMKG mencatat masih ada beberapa titik wilayah yang mendapatkan pasokan hujan lokal, khususnya di kawasan dataran tinggi dan wilayah bagian timur.

"Jawa Timur bagian timur ini masih terdeteksi adanya hujan seperti di Banyuwangi, Malang, Lumajang yang bagian selatan. Kemudian sedikit wilayah Tulungagung di selatan sekitar Besuki, kalau Trenggalek di Munjungan ini masih ada hujan. Kemudian untuk yang bagian tengah ini di sekitar Mojokerto yaitu di Pacet," sambung Setiyaris.

Menanggapi fenomena alam yang kian mengkhawatirkan ini, pihak BMKG mewanti-wanti seluruh elemen masyarakat, khususnya yang berdomisili di zona rawan krisis air, untuk mulai menghemat cadangan air bersih secara bijak. 

Selain itu, warga diimbau untuk tidak mudah panik serta selalu menyaring setiap informasi yang beredar agar tidak terprovokasi oleh berita bohong atau hoaks terkait dampak kekeringan.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru