NGANJUK, SRTV.CO.ID – Peresmian Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro, Nganjuk, Sabtu (16/5/2026) menjadi momen bersejarah yang tak terlupakan.
Namun, di balik kekhidmatan acara yang mengenang perjuangan Pahlawan Nasional itu, terselip suasana berbeda yang begitu hangat dan meriah.
Presiden Prabowo Subianto tampil beda, bukan sekadar sebagai Kepala Negara yang berpidato serius, melainkan bak seorang dirigen yang cakap menghidupkan suasana.
Gaya bicaranya yang ceplas-ceplos, lugas namun jenaka, seketika mengubah lokasi acara menjadi panggung kebersamaan. Satu per satu menteri dan pejabat tinggi yang hadir disentil dengan kelakar segar.
"Kok enggak pakai kaos buruh? Kapan terakhir dipenjara? Mau lagi balik masuk penjara? Sekarang jadi menteri," canda Presiden kepada Menteri Lingkungan Hidup sekaligus tokoh buruh senior, M Jumhur Hidayat.
Kalimat jenaka ini langsung disambut gelak tawa riuh dari seluruh hadirin yang memenuhi lokasi, seolah menjadi pengingat manis bagaimana roda kehidupan berputar, sosok yang dulunya aktif turun ke jalan dan merasakan dinginnya sel penjara, kini duduk di kursi pengambil kebijakan.
Kehangatan komunikasi Presiden tak berhenti di situ. Perhatiannya kemudian beralih ke jajaran menteri perempuan, salah satunya Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi.
Saat mengetahui sang menteri berasal dari Nganjuk, Prabowo langsung memuji daerah ini sebagai tanah yang subur dan istimewa, tempat lahirnya atau tumbuhnya para pemimpin-pemimpin besar bangsa.
Ia pun merajut narasi yang kental dengan nuansa lokal dan sedikit mitos jenaka, seolah Nganjuk memiliki kekuatan magis yang istimewa bagi siapa saja yang bercita-cita memimpin negeri ini.
"Ayo, siapa yang mau jadi presiden? Ayo. Malam-malam ke Nganjuk biar enggak ada wartawan yang lihat," tuturnya sambil terkekeh lebar.
Ucapan ini disambut senyum simpul dan tepuk tangan hadirin, seolah membenarkan bahwa Nganjuk memang daerah istimewa yang layak "dinyalangi" berkahnya secara diam-diam agar terwujud cita-cita setinggi langit.
Puncak kelakar dan momen paling heboh terjadi ketika pandangan Presiden tertuju pada dua pucuk pimpinan tertinggi pertahanan dan keamanan negara yang hadir di lokasi Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo yang berdiri di sampingnya, dan Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto yang duduk di barisan depan.
Secara kebetulan yang sangat unik, gabungan nama belakang keduanya membentuk nama lengkap Presiden sendiri, Prabowo Subiyanto. Fenomena kebetulan yang langka ini langsung ditangkap oleh Presiden sebagai tanda yang luar biasa dan penuh makna.
"Kalau mereka berdua itu, Prabowo Subiyanto, ya. Tanda-tanda dari, dari langit," selorohnya. Kalimat jenaka ini memicu gemuruh tepuk tangan paling membahana sepanjang acara.
Di balik segala canda dan tawa yang mewarnai peresmian bersejarah itu, tersimpan pesan mendalam cara kepemimpinan yang dibangun Presiden Prabowo.
Melalui pendekatan yang humanis, akrab, dan penuh humor ini, ia sedang menegaskan bahwa di tengah beban berat tugas negara, soliditas, kebersamaan, dan rasa percaya antar sesama pemimpin adalah fondasi utama.
Di Nganjuk hari itu, sejarah tak hanya ditulis lewat peresmian gedung, tetapi juga lewat momen kebersamaan yang membuktikan, pemimpin besar pun bisa tertawa, bercanda, dan menjadikan suasana kenangan perjuangan sebagai momen persatuan yang hangat.
Editor : SRTVRedaksi