Wisata Air Merambat Roro Kuning: Pesona Alam yang Menyimpan Sejarah Kerajaan

Wisata Air Merambat Roro Kuning. Tidak hanya memanjakan mata dengan pemandangan hijau dan aliran air yang sejuk, tetapi juga menyimpan kisah legenda yang kental akan nilai sejarah dan spiritual
Wisata Air Merambat Roro Kuning. Tidak hanya memanjakan mata dengan pemandangan hijau dan aliran air yang sejuk, tetapi juga menyimpan kisah legenda yang kental akan nilai sejarah dan spiritual

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Berada di kawasan Bajulan, Kecamatan Loceret, tepat di kaki Gunung Wilis, terdapat destinasi wisata alam yang kini populer dengan nama Wisata Air Merambat Roro Kuning. Tempat ini tidak hanya memanjakan mata dengan pemandangan hijau dan aliran air yang sejuk, tetapi juga menyimpan kisah legenda yang kental akan nilai sejarah dan spiritual.

"Jaman biyen, ana sawijining kraton karan Kahuripan kang dipimpin dening raja Airlangga. Raja Airlangga kagungan putra telu cacahé, ya kuwi; Sanggramawijaya Tunggadewi, Grasakan lan Jitendra."

(Artinya: "Pada zaman dahulu, ada sebuah kerajaan bernama Kahuripan yang dipimpin oleh Raja Airlangga. Raja Airlangga memiliki tiga orang anak, yaitu Sanggramawijaya Tunggadewi, Grasakan, dan Jitendra.")

Demikian bunyi cerita yang turun-temurun, seperti dikutip Sukadi, sejarawan Nganjuk yang juga aktif di Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk), Selasa (27/4/2026).

Cerita bermula ketika Raja Airlangga menyerahkan tahta kepada putrinya, Sanggramawijaya Tunggadewi. Namun, putri tersebut justru memilih meninggalkan kemewahan istana untuk bertapa dan kemudian dikenal dengan nama Dewi Kili Suci. Kerajaan Kahuripan pun akhirnya terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Jenggala dan Panjalu.

"Sawijining dina, Dewi Kili Suci katon susah, jalanan duwe lara sing aneh. Awak sakojor ambune amis. Mula, ora ana kanca-kancane sing gelem ngancani."

(Artinya: "Suatu hari, Dewi Kili Suci tampak sedih dan menderita penyakit aneh. Seluruh tubuhnya mengeluarkan bau amis. Oleh karena itu, tidak ada teman-temannya yang mau mendekat atau menemaninya.")

Merasa menderita penyakit aneh tersebut, Dewi Kili Suci pun pergi bertapa ke kawasan kaki Gunung Wilis. Di sana ia bertemu dengan Resi Darmo yang kemudian memberikan petunjuk jalan kesembuhan.

"Sang Dewi kudu gelem mertapa kungkum ana sak ngisore pitung grojogan, sesasi lawase, nyuwun sihing Gusti, supaya enggal dhandang."

(Artinya: "Sang Dewi harus bersedia bertapa dan berendam di bawah ketujuh air terjun tersebut selama satu bulan penuh, memohon rahmat kepada Tuhan, agar penyakitnya segera sembuh.")

Setelah menjalani tapa kungkum selama sebulan penuh, saat berada di air terjun tingkat ketujuh, keajaiban pun terjadi. Warga desa melihat sosok putri cantik, berkulit kuning bersinar dan berambut panjang sedang mandi. Keindahan dan keanehan kejadian itu membuat warga menjadi geger dan takjub.

Sejak saat itu, air terjun tersebut dikenal dengan nama Grojogan Roro Kuning. Legenda ini mengajarkan nilai ketabahan bahwa manusia tidak boleh mudah menyerah pada keadaan, melainkan harus berjuang dan berdoa agar segala cita-cita dapat tercapai.

Editor : SRTVRedaksi