Kebakaran Lahan di Denanyar Merembet, Gudang Rongsok dan Bangunan Roboh Hangus Dilalap Si Jago Merah

Petugas Pemadam Kebakaran saat berjibaku memadamkan sisa-sisa kobaran api yang membakar lahan kering serta bangunan gudang barang bekas di Dusun Karangtimongo, Desa Denanyar, Jombang
Petugas Pemadam Kebakaran saat berjibaku memadamkan sisa-sisa kobaran api yang membakar lahan kering serta bangunan gudang barang bekas di Dusun Karangtimongo, Desa Denanyar, Jombang

JOMBANG, SRTV.CO.ID – Kebakaran lahan kering di Dusun Karangtimongo, Desa Denanyar, Kecamatan/Kabupaten Jombang, berujung petaka pada Minggu (13/9/2026) siang.

Amukan si jago merah merembet cepat hingga menghanguskan sebuah gudang barang bekas (rongsok).

Hingga pukul 17.00 WIB, puluhan petugas pemadam kebakaran masih terus berjibaku di lokasi guna memadamkan api dan mencegah kobaran membakar permukiman warga.

"Dari arah timur. Di timur itu ada pekarangan yang dibakar katanya sama orang. Biasanya kan orang membersihkan," kata saksi mata di lokasi kejadian, Alvinia Avni (23).

Insiden bermula sekitar pukul 12.00 WIB dari area pekarangan yang berjarak sekitar 500 meter di sebelah timur gudang. Cuaca terik yang menyengat dipadu tiupan angin kencang membuat kobaran api dengan cepat merambat ke arah barat, menyeberangi pepohonan jati dan rumpun bambu hingga membakar material rongsokan yang menumpuk.

"Anginnya kencang, panas waktu itu, akhirnya langsung merembet. Di belakang banyak bambu dan jati yang kering akhirnya langsung kena api. Terus gudang kertas-kertas, plastik, karung, akhirnya langsung terbakar," ujar Alvinia menjelaskan kronologi merembetnya api.

Kobaran api yang kian membesar juga sempat menyambar sebuah kandang burung berjarak sekitar 200 meter dari pusat kebakaran. Peristiwa ini membuat warga sekitar panik, beberapa di antaranya bahkan mulai mengeluarkan serta memindahkan barang-barang berharga dari dalam rumah ke tempat yang lebih aman.

"Untuk kejadian awalnya itu memang posisi api sudah naik dari kebakaran lahan. Kita belum bisa tahu secara pasti apa penyebabnya, siapa yang membakar. Yang jelas api dari lahan merembet ke sini," ungkap salah satu petugas pemadam kebakaran di lokasi.

Akses jalan yang terbatas dan kepulan asap tebal menyulitkan petugas untuk mengukur secara pasti total luas lahan yang terdampak. Titik api di belakang gudang rongsok menjadi area paling berisiko tinggi karena dipenuhi tumpukan kertas, plastik, dan karung yang sangat mudah terbakar, hingga membuat struktur bangunan gudang runtuh akibat panas hebat.

"Belum bisa menyimpulkan karena ini posisi akses juga masih kita lihat. Ini tadi juga merembet ke sana. Lahan bambu dan jati," lanjut petugas damkar.

Guna menaklukkan kobaran api, tim pemadam meragakan lima unit mobil pumper dan dibantu armada suplai air tambahan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PDAM, Margo Langgeng, serta Pabrik Gula. Berdasarkan catatan warga, kebakaran lahan di kawasan belakang gudang ini ternyata bukan yang pertama kali, melainkan sudah terjadi sebanyak tiga kali dalam kurun waktu sebulan terakhir.

"Ini tempat usaha dan sejenisnya yang punya potensi bahaya kebakaran yang tinggi," jelas petugas damkar mengenai besarnya risiko di area gudang rongsok tersebut.

Meski tidak ada korban jiwa maupun luka-luka dalam musibah ini, total kerugian materiil diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah mencakup tanaman jati, bambu, ribuan material bekas, hingga kerusakan fisik bangunan gudang.

"Kalau kerugian mungkin dari lahan bambu dan macam-macamnya. Terus kalau di rongsok ini material-material rongsok dan gedungnya ikut ambruk karena panas," terangnya.

Pihak pemadam kebakaran mengimbau keras seluruh lapisan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah atau lahan secara sembarangan, terlebih di tengah kondisi cuaca panas ekstrim dan angin kencang.

"Kita mengimbau kepada masyarakat kondisi cuaca panas, angin kencang untuk tidak membakar sembarangan. Kalaupun terpaksa harus ditungguin dan harus dipastikan apinya sampai mati, jangan sampai ditinggal," tegas petugas di akhir pemadaman.

Editor : SRTVRedaksi