Mendidik Anak Generasi Digital dengan "Soft Touch", dr. Aisyah Dahlan Bongkar Rahasia Otak di Nganjuk

Praktisi parenting dan neuroscience nasional, dr. Aisyah Dahlan, saat menyampaikan materi seminar parenting modern berbasis cara kerja otak di Pendopo Kabupaten Nganjuk (Ist/SRTV)
Praktisi parenting dan neuroscience nasional, dr. Aisyah Dahlan, saat menyampaikan materi seminar parenting modern berbasis cara kerja otak di Pendopo Kabupaten Nganjuk (Ist/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID -  Kehadiran praktisi parenting dan neuroscience nasional, dr. Aisyah Dahlan, di Pendopo Kabupaten Nganjuk membawa warna baru bagi dunia pendidikan di Bumi Anjuk Ladang.

Seminar parenting modern yang dihadiri Bupati Nganjuk Kang Marhaen Djumadi beserta jajaran Forkopimda, guru BK, dan wali murid ini mengupas tuntas rahasia pengasuhan berbasis cara kerja otak secara hangat dan jenaka.

"Banyak sekali yang mengira suami saya bernama Pak Dahlan. Nama suami saya sebenarnya adalah Dr. Prianto Sismadi," ujar dr. Aisyah Dahlan membuka cerita keluarganya di hadapan ratusan peserta.

Kehadiran dr. Aisyah menjadi momen istimewa karena ia dapat menyapa masyarakat Nganjuk secara langsung setelah sebelumnya hanya bertatap muka secara virtual. Suasana pendopo pun terasa cair saat ia membagikan kisah keluarga dan memperkenalkan kelima anaknya.

"Zaman dulu, kalau televisi atau radio kita rusak, cukup dipukul langsung benar kembali. Namun, teknologi sekarang menggunakan pendekatan soft touch (sentuhan lembut). Sama halnya dengan anak-anak zaman sekarang, mereka tidak bisa lagi dididik dengan kekerasan fisik, melainkan harus dengan pola asuh soft touch penuh kelembutan," jelasnya menekankan perubahan pola didik generasi modern.

Ia mebeberkan bahwa anak generasi digital lahir dengan sekitar 100 miliar sel otak (neuron) yang siap mengolah data secara cepat.

Oleh karena itu, pendekatan pengasuhan dan pembelajaran di sekolah harus beradaptasi agar relevan dengan kondisi emosional anak.

"Jika anak datang dalam kondisi kesal atau sedih, sekolah bisa menghiburnya dulu melalui tadarus bersama, bernyanyi, atau bermain musik sederhana dengan memukul kaleng menggunakan sumpit kayu. Gerakan fisik dan irama ini terbukti sangat bagus menaikkan emosi gembira anak di otak mereka," tambah dr. Aisyah.

Selain itu, ia menjelaskan pentingnya peran neurotransmitter sebagai zat perekat informasi di otak yang dipengaruhi oleh nutrisi dan suasana emosi.

Ia sempat memuji kelezatan pecel Nganjuk sebagai sarapan bergizi, sekaligus mengingatkan pentingnya menetralkan emosi negatif anak sebelum kegiatan belajar dimulai.

"Sangat wajar jika anak laki-laki usia dini sangat aktif bergerak, lari-larian, dan suka berimajinasi meniru pahlawan super setelah menonton TV. Itulah mengapa, untuk menyelamatkan perkembangan mental anak laki-laki dari kurikulum sekolah modern yang sangat padat, idealnya mereka baru mulai masuk sekolah dasar di usia 7 tahun ke atas," terangnya saat membahas perkembangan anak laki-laki.

Sesi seminar diakhiri dengan pemaparan anatomi perbedaan belahan otak anak laki-laki dan perempuan. Lewat edukasi ini, para orang tua dan tenaga pendidik di Nganjuk diharapkan mampu menerapkan pengasuhan positif demi mewujudkan hubungan keluarga yang harmonis serta mendukung potensi unik setiap anak.

Editor : SRTVRedaksi