JOMBANG, SRTV.CO.ID – Gejolak internal di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) kian menyedot perhatian publik. Sejumlah Nahdliyin menggelar aksi deklarasi dukungan terhadap pengasuh Pondok Pesantren Madrosatul Qur'an Tebuireng, KH Musta'in Syafi'ie (Yai Tain), tepat di kompleks makam salah satu muassis NU, KH Abdul Wahab Chasbullah, Tambakberas, Jombang, Rabu (26/8/2026).
"Bagi kami, narasi Yai Tain adalah refleksi yang semestinya diterima sebagai pengingat oleh pengurus PBNU. Ini soal standar moral seorang Rais Aam dan soal bagaimana NU kembali kepada kesederhanaan yang diwariskan para muassis," ujar Koordinator Deklarasi, Solihin, kepada awak media seusai tawassul di makam Mbah Wahab.
Sebelum membacakan pernyataan sikap, para peserta yang mengenakan kaos putih bertuliskan "KPK NU" terlebih dahulu menggelar tawassul. Kegiatan spiritual ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan sekaligus memohon keberkahan dan kelancaran atas aksi moral yang mereka usung demi mengawal marwah organisasi.
"Bagaimana mungkin sebuah gerakan moral, pengingat akhlak, dan pesan untuk menjaga marwah NU justru dianggap mencemarkan nama baik," tutur Solihin mempertanyakan somasi dan laporan Bareskrim Polri yang dilayangkan tim kuasa hukum Rais Aam PBNU, KH Miftahul Akhyar, terhadap Yai Tain.
Solihin menegaskan bahwa langkah hukum yang ditempuh pihak PBNU tidak sedikit pun menyurutkan barisan dukungan.
Sebaliknya, hal tersebut justru memantik kesadaran kolektif warga nahdliyin akan pentingnya menjaga standar moralitas di jajaran pucuk pimpinan.
"Justru dengan dilaporkannya Yai Tain, kami semakin yakin bahwa pesan tentang pentingnya menjaga moralitas dan marwah NU harus terus disuarakan," tegasnya di hadapan para awak media.
Dalam kesempatan tersebut, kelompok relawan "KPK NU" ini juga menitipkan pesan menohok kepada seluruh jajaran Pengurus Wilayah NU (PWNU) dan Pengurus Cabang NU (PCNU) se-Indonesia menjelang pelaksanaan Muktamar NU mendatang.
"Kami meminta kepada PWNU dan PCNU, tolong jaga Muktamar NU ini. Jangan jadikan Muktamar sebagai ajang politik transaksional. Malu kepada Mbah Wahab. Malu kepada para muassis yang membangun NU dengan keikhlasan, perjuangan, dan pengorbanan," terangnya dengan nada tegas.
Guna memastikan forum tertinggi organisasi tersebut berjalan bersih, kelompok relawan ini berkomitmen akan melakukan pengawalan ketat serta mencermati setiap potensi manuver atau politik uang selama proses Muktamar berlangsung.
"Kami akan mengawal. Kami akan mencermati setiap indikasi politik transaksional yang muncul dan, apabila menemukan dugaan pelanggaran atau praktik yang tidak semestinya, kami akan mengumpulkan bukti dan menyampaikannya melalui mekanisme yang tersedia," pungkas Solihin.
Ia menambahkan, pengawalan ini sama sekali bukan bentuk intimidasi, melainkan tradisi amar ma'ruf nahi munkar untuk memastikan NU tetap berjalan di atas koridor dan khittah para pendiri bangsa.
"Deklarasi ini juga bagian dari tradisi amar ma'ruf dan mekanisme moral untuk mengingatkan para pengurus agar tetap berada dalam koridor perjuangan para muassis," tutupnya.
Editor : SRTVRedaksi