Dubes Australia Ziarah ke Makam Gus Dur, Yenny Wahid Serukan Muktamar NU Kembali Ke Khittah

Yenny Wahid menyampaikan seruannya agar Muktamar ke-35 NU tidak terjebak menjadi arena perselisihan dan perebutan tampuk kepemimpinan semata (Saha/SRTV)
Yenny Wahid menyampaikan seruannya agar Muktamar ke-35 NU tidak terjebak menjadi arena perselisihan dan perebutan tampuk kepemimpinan semata (Saha/SRTV)

JOMBANG, SRTV.CO.ID - Dua momen penting mewarnai hari Selasa (18/8/2026) di Kabupaten Jombang. Duta Besar Australia untuk Indonesia, H.E. Rod Brazier, melakukan kunjungan kerja ke Kota Santri dengan berziarah ke makam Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di Kompleks Pondok Pesantren Tebuireng.

Dan putri Gus Dur, Yenny Wahid, menyampaikan seruan serius menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Tambakberas.

Rod Brazier mengungkapkan bahwa sosok Gus Dur telah menginspirasinya sejak lama, jauh sebelum ia menjabat sebagai duta besar.

Bahkan, ia sudah mengenal nama Gus Dur sejak masih menjadi mahasiswa di Australia pada usia 20-an tahun.

"Ya, terima kasih banyak, Suatu kehormatan besar untuk saya bisa berkunjung ke Jombang, khususnya Tebuireng. Sejak saya umur 20-an tahun sebagai mahasiswa di Australia, saya dengar nama Gus Dur itu. Dan saya dapat bertemu dengan beliau pada tahun 1992 kalau tidak salah. Dan sekarang, 34 tahun kemudian, saya sempat berziarah ke makam beliau di Jombang bersama Ibu Yenny," ujar Rod Brazier, Selasa (18/8/2026).

Usai berziarah bersama putri Gus Dur, Yenny Wahid, agenda dilanjutkan dengan tatap muka dan santap siang bersama para ulama serta pimpinan pesantren se-Kabupaten Jombang.

Pertemuan informal ini menjadi ruang diskusi hangat mengenai rekam jejak perjuangan Islam moderat dan dinamika sejarah Nahdlatul Ulama.

"Dan siang ini, saya juga dapat kesempatan untuk bertemu dengan para ulama di Jombang dan makan bersama. Dan saya mendengar banyak cerita yang menarik mengenai sejarah pesantren-pesantren dan NU di Jombang. Dan ke depan, semoga saya bisa kembali lagi ke sini dan kerja sama di antara Australia dan Indonesia, Jawa Timur, dan Jombang bisa berkembang terus," terangnya.

Rod Brazier juga memberikan apresiasi tinggi terhadap iklim keberagaman dan budaya toleransi yang hidup di tengah masyarakat Jombang. Menurutnya, nilai-nilai perdamaian yang dipraktikkan oleh masyarakat dan kalangan pesantren di Jombang sangat relevan dengan tantangan global saat ini.

"Ya, luar biasa. Saya merasa sangat terkesan ya dengan pesan-pesan mengenai toleransi ya. Sekarang di dunia ini dengan sosial media dan sebagainya, pesan-pesan toleransi makin penting. Dan harapan saya, Australia bisa belajar dari contoh di Jombang ini yang luar biasa," pungkas sang Duta Besar.

Dalam kesempatan yang sama, Yenny Wahid menyampaikan seruannya agar Muktamar ke-35 NU tidak terjebak menjadi arena perselisihan dan perebutan tampuk kepemimpinan semata.

Putri Gus Dur ini menegaskan bahwa kunci utama penyelamatan tatanan jam'iyah saat ini terletak pada keberanian untuk kembali ke akar sejarah, yakni memegang teguh Khittah NU dan Qanun Asasi.

"Soal muktamar, saya berharap sekali bahwa Muktamar yang akan berlangsung di Tambakberas ini, siapa pun yang akan memenangkan, akan terpilih, maka kewajiban utamanya adalah menyatukan seluruh faksi yang sekarang terlibat dalam pertikaian," tegas Yenny Wahid.

Aktivis NU senior yang kerap disapa Mbak Yenny ini menilai kepengurusan baru hasil muktamar mendatang memikul beban sejarah yang sangat besar.

Tugas utama ketua terpilih bukan sekadar merayakan kemenangan, melainkan menghentikan gesekan internal dan merangkul kembali seluruh elemen organisasi di setiap tingkatan.

"Mengembalikan NU kembali ke khitahnya. Lalu menjadikan Qanun Asasi sebagai prinsip dasar menjalankan Nahdlatul Ulama ke depannya nanti," tutup Mbak Yenny.

Kunjungan ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi peningkatan kolaborasi lintas sektor antara Pemerintah Australia dengan Jawa Timur, khususnya Kabupaten Jombang, di bidang pendidikan, kebudayaan, maupun dialog antarkeyakinan.

Sementara itu, melalui kembalinya NU pada Khittah dan Qanun Asasi, Muktamar ke-35 di Tambakberas diharapkan mampu menjadi titik balik perbaikan tatanan jam'iyah.

Editor : SRTVRedaksi