NGANJUK, SRTV.CO.ID – Lapangan Desa Paron mendadak berubah menjadi lautan manusia. Tabuhan kendang yang bertalu-talu berpadu dengan lengkingan slompret meniupkan roh magis ke tengah lapangan.
Ribuan warga tumplek blek, mata mereka tak berkedip menyaksikan liukan lincah penari Jaranan dan gagahnya dadak merak Seni Reog yang menari di bawah terik matahari.
Ini bukan sekadar hiburan rakyat biasa, melainkan puncak dari tradisi Nyadran Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk. Sebuah agenda tahunan yang menjadi bukti runtuhnya sekat waktu, mengawinkan keagungan budaya leluhur Jawa dengan napas religiusitas Islam.
Di tengah riuhnya penonton, tampak hadir Sesen Aprika Dewantono, salah satu anggota dewan muda Nganjuk yang turut membaur bersama warga. Kehadiran tokoh muda ini seolah menegaskan bahwa tradisi kuno ini tetap memikat generasi modern.
"Tradisi Nyadran ditujukan untuk mendoakan leluhur yang sudah meninggalkan dunia dan untuk mengingatkan diri bahwa semua manusia pada akhirnya akan mengalami kematian," jelas Kepala Desa Paron, Partono, saat ditemui di sela-sela acara.
Bagi masyarakat Paron, Nyadran atau Bersih Desa memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dengan wilayah lain. Antusiasme warga yang begitu menggandrungi kesenian tradisional membuat gelaran ini selalu dinanti. Namun di balik riuh rendah kesenian Reog dan Jaranan, ada esensi yang jauh lebih mendalam dari sekadar tontonan.
"Nyadran juga dijadikan sarana untuk melestarikan budaya gotong royong sekaligus upaya menjaga keharmonisan masyarakat. Semoga dengan diadakannya nyadran/bersih desa, ini menjadi salah satu bentuk sujud syukur pada pendahulu kita, termasuk nenek moyang yang pertama babat desa Paron," tutur Kades Partono penuh harap.
Melongok sejarahnya, tradisi ini punya akar yang sangat panjang. Jauh sebelum Islam masuk ke Nusantara, masyarakat zaman Hindu-Budha telah mengenal ritual serupa. Pada tahun 1284 masehi, tercatat sebuah upacara bernama Sradha.
Bedanya, jika dahulu Sradha digelar eksklusif dan sakral hanya untuk memperingati kematian Raja, kini Nyadran telah membumi dan dipeluk oleh seluruh lapisan masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, akulturasi budaya mengubah wajah ritual ini tanpa kehilangan jiwanya. Sesaji dan penghormatan kepada arwah yang dulunya diiringi puji-pujian kuno, kini selaras dengan ajaran Islam melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an, zikir, tahlil, dan doa bersama.
Di Lapangan Desa Paron sendiri, sejarah panjang itu dirawat dengan sangat baik. Di antara kepulan asap dupa, doa-doa yang melangit, dan entakan kaki para penari jaranan, warga Paron sedang mengirim pesan ke masa depan: bahwa mereka tidak akan pernah lupa pada tanah tempat mereka berpijak, dan pada leluhur yang telah membukakan jalan.
Editor : SRTVRedaksi