Perdana di Nganjuk, Ngeri-Ngeri Sedap Adu Laga Cambuk Tiban di Mojorembun Rejoso

Dua jawara kesenian Tiban bertelanjang dada saling berhadapan memegang cambuk di tengah arena dalam pagelaran Seni Adu Tiban di Desa Mojorembun, Rejoso, Nganjuk (Dito/SRTV)
Dua jawara kesenian Tiban bertelanjang dada saling berhadapan memegang cambuk di tengah arena dalam pagelaran Seni Adu Tiban di Desa Mojorembun, Rejoso, Nganjuk (Dito/SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Sunyi siang itu pecah oleh lecutan pecut yang menyayat udara Desa Mojorembun, Kecamatan Rejoso, Nganjuk. Minggu (5/7/2026), menjadi catatan sejarah baru bagi warga setempat. 

Untuk kali pertama, Seni Adu Laga Tiban digelar di bumi Anjuk Ladang. 

Puluhan jawara dari Blitar dan Tulungagung berkumpul, bertelanjang dada, saling berhadapan dengan sebilah cambuk lidi aren di tangan. Mereka tidak sedang bermusuhan, melainkan merawat sebuah warisan nenek moyang yang lahir dari kepedihan masa lalu.

Tradisi ekstrem ini bukan sekadar pamer ketangkasan. Kisahnya merentang jauh ke jaman Kerajaan Kediri purba, saat seorang raja bertangan besi memicu murka alam.

"Seni adu laga pecut Tiban ini berawal dari jaman Kerajaan Kediri. Kala itu, sang raja sangat otoriter sehingga Yang Maha Kuasa murka dan memberikan hukuman berupa kemarau panjang." Ungkap Mbah Boniman salah seorang sesepuh 

Dampak dari kemarau panjang itu, Sawah-sawah mengering dan tidak dapat ditanami. Untuk menebus kutukan tersebut, warga melakukan ritual Tiban menyiksa diri dengan saling cambuk 

"Ini merupakan ritual agar hujan itu tiba (tiban) turun," jelas Mbah Bon sapaan akrabnya.

Kini, fungsi ritual pengusir kemarau itu telah bergeser menjadi seni pertunjukan yang menyatukan para jawara. 

Riuh penonton menyemangati setiap sabetan yang mendarat di punggung legam para peserta. 

Garis-garis merah memar seketika mencuat di kulit, memercikkan darah, namun tak ada rasa dendam di antara mereka. Setelah laga usai, mereka saling berpelukan.

Bagi para pelakunya, rasa sakit adalah bentuk kebanggaan dan pembuktian mental yang tidak semua orang miliki.

"Saya sudah mengikuti Tiban ini sampai ke luar Jawa. Kalau ditanya rasanya, ya pasti sakit sekali saat pecut itu mendarat di kulit. Tetapi sebagai jawara, saya sangat bangga dan terhormat bisa ikut berlaga pertama kalinya di Nganjuk ini," ujar Darmo, salah satu peserta Tiban.

Potensi seni Tiban sebagai pemersatu justru menjadi daya tarik utama yang membuatnya tetap lestari di era modern.

Saat ini, paguyuban Tiban tumbuh subur di wilayah Mataraman: Blitar memiliki 22 paguyuban, Tulungagung 10 paguyuban, dan Trenggalek 8 paguyuban. 

Suksesnya gelaran di Mojorembun memicu rencana besar untuk segera mendirikan paguyuban resmi Seni Tiban di Kabupaten Nganjuk.

Nilai filosofis di balik bilah-bilah pecut inilah yang ingin terus dijaga agar tidak lekang oleh zaman.

"Kami akan terus membina seni adu laga Tiban ini. Ini bukan soal kekerasan, melainkan seni budaya yang memiliki kekuatan untuk mempersatukan umat manusia dan mempererat tali persaudaraan antar-daerah," tegas Guntur Wahono, Pembina Tiban Jawa Timur.

Editor : SRTVRedaksi