Nganjuk Dikepung Kemarau Panjang, 60 Hari Tanpa Hujan, Desa Ngepung Mulai Masuk Radar BPBD

Ilustrasi Kondisi lahan gersang di Kabupaten Nganjuk akibat fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem yang berlangsung lebih dari 60 hari (SRTV)
Ilustrasi Kondisi lahan gersang di Kabupaten Nganjuk akibat fenomena Hari Tanpa Hujan (HTH) ekstrem yang berlangsung lebih dari 60 hari (SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Kabupaten Nganjuk resmi masuk dalam kategori Hari Tanpa Hujan (HTH) panjang ekstrem setelah tidak diguyur hujan selama lebih dari 60 hari berturut-turut. 

Kondisi ini membuat julukan Kota Angin terasa semakin gersang dan meningkatkan potensi krisis air di sejumlah wilayah.

"Dari 17 pos pengamatan, kategori HTH sangat panjang dan ekstrem," ungkap Prakirawan BMKG Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris. Rabu (19/8/2026)

Berdasarkan pemantauan BMKG di 17 titik pos pengamatan, seluruh wilayah yang dipantau memang menunjukkan indikator kekeringan tingkat tinggi. Ancaman berkurangnya pasokan air bersih pun mulai membayangi aktivitas harian masyarakat.

"Untuk warning awal, seperti tahun-tahun sebelumnya. Yang menjadi titik perhatian kami ada di Desa Ngepung Kecamatan Lengkong," ujar Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Nganjuk, Purwo Hadi Setyo Wicaksono.

Menghadapi potensi kekeringan tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nganjuk langsung menyematkan status warning untuk daerah rawan.

Desa Ngepung di Kecamatan Lengkong menjadi salah satu fokus perhatian utama karena kerap menjadi langganan krisis air setiap musim kemarau.

"Kami masih pantau sampai saat ini. Belum dropping air bersih, masih dalam pemantauan," pungkas Wicak.

Meski demikian, pihak BPBD memastikan bahwa pasokan air di Desa Ngepung hingga saat ini masih terbilang mencukupi. Pemantauan intensif terus dilakukan, dan bantuan penyaluran (dropping) air bersih siap diterjunkan sewaktu-waktu jika kondisi memburuk.

Editor : SRTVRedaksi