JOMBANG, SRTV.CO.ID - Musim panen tembakau di Desa Kepuhrejo, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, membawa kabar baik bagi para petani. Harga jual tahun ini melambung dibandingkan musim sebelumnya, seiring kualitas daun yang dinilai lebih baik.
Di tingkat petani, tembakau rajangan kering dihargai Rp37 ribu sampai Rp42 ribu per kilogram. Untuk kualitas non-gula, harganya bahkan menembus Rp50 ribu per kilogram.
Dikatakan Kepala Desa Kepuhrejo, Asiami, tanaman tembakau tahun ini tumbuh subur. Hasil rajangan pun lebih banyak ketimbang musim lalu.
"Tanaman tembakau redemanya bagus dibandingkan tahun lalu. Dalam satu kwintal bisa keluar 18-20 kilogram kalau di ranjang. Harganya juga bagus tahun ini," ujar Asiami saat dikonfirmasi awak media, Kamis (10/9/2026).
Ia menyebutkan harga yang stabil menjadi oase bagi petani di tengah besarnya biaya produksi. Mulai dari pengolahan lahan, pembelian bibit dan pupuk, perawatan, panen, perajangan, hingga pengeringan, semuanya membutuhkan modal tidak sedikit.
Tak hanya yang kering, Kades Kepuhrejo juga melihat daun tembakau basah jenis rejeb pun masih punya nilai jual. Harganya berkisar Rp7 ribu per kilogram. Meski begitu, sebagian besar petani Kepuhrejo memilih mengolah sendiri daun menjadi rajangan agar harga jualnya lebih tinggi.
"Mayoritas di sini petani memproses sendiri, dirajang. Di Desa Kepuhrejo sudah 80 persen dipanen. Alhamdulillah tahun ini harganya bagus dibandingkan tahun kemarin," jelasnya.
Hingga awal September 2026, sekitar 80 persen lahan tembakau di desa tersebut telah dipanen. Hasilnya kemudian melalui tahap perajangan dan pengeringan sebelum akhirnya dijual ke pasar. Desa Kepuhrejo sendiri sudah lama dikenal sebagai sentra tembakau di wilayah utara Brantas.
Ia mengatakan pertanian dengan komoditas ini menjadi tulang punggung penghasilan warga. Pada 2025, Pemkab Jombang bahkan menetapkan desa ini sebagai Desa Tematik Tembakau. Dengan lahan puluhan hektare, tembakau ikut menggerakkan roda perekonomian desa.
"Panen melimpah plus harga tinggi menjadi suntikan semangat bagi petani yang selama ini bergelut dengan cuaca tak menentu sekarang ini," terangnya.
Kini dari keluhan para petani sebelumnya, Asiami mewakili para petani hanya berdoa sederhana, harga tetap bertahan sampai seluruh hasil panen terserap pasar. "Sebab bagi mereka, panen bagus dan harga menguntungkan adalah modal untuk menutup biaya produksi sekaligus menghidupi keluarganya," pungkasnya.
Editor : SRTVRedaksi