BASIRA Ajak Mahasiswa dan Santri Kawal Pemerintah Lewat Kritik Santun

Reporter : Ahmad Zaki Mawardi
Pengurus BASIRA Kabupaten Nganjuk menyampaikan pernyataan sikap menyikapi dinamika politik nasional. (SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID– Barisan Santri Indonesia Raya (BASIRA) Kabupaten Nganjuk secara resmi menyampaikan pernyataan sikap terkait dinamika politik nasional belakangan ini. 

Menanggapi gelombang kritik dan aksi demonstrasi dari sebagian kelompok mahasiswa, BASIRA mengajak semua pihak untuk tetap menjaga kondusivitas dan etika dalam berdemokrasi.

Ketua BASIRA Kabupaten Nganjuk, Nur Yahya Musthofa, menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh berbagai program pemerintah yang berpihak kepada rakyat kecil. Menurutnya, kegaduhan politik tidak boleh mengaburkan objektivitas masyarakat dalam melihat manfaat nyata dari kebijakan yang ada.

"Kami meyakini bahwa Presiden Prabowo Subianto sebagai pemimpin bangsa senantiasa mengutamakan kepentingan rakyat, bangsa, dan negara dalam setiap kebijakan yang diambil. Karena itu, masyarakat perlu mengedepankan sikap husnuzan sekaligus tetap memberikan pengawasan yang konstruktif,” ujarnya, Minggu (14/6/2026).

Pria yang akrab disapa Gus Yayak itu menambahkan bahwa dukungan yang diberikan BASIRA bukan berarti menutup ruang bagi aspirasi publik. Organisasinya tetap menghormati hak setiap warga negara untuk menyampaikan pendapat di muka umum.

Meski mendukung alam demokrasi, BASIRA memberikan catatan tebal mengenai cara penyampaian aspirasi di lapangan. Gus Yayak menilai, kritik yang konstruktif seharusnya menguji substansi kebijakan, bukan justru berujung pada pembunuhan karakter atau penghinaan personal pejabat negara.

“Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi kritik yang berisi penghinaan, caci maki, atau merendahkan harkat dan martabat Presiden maupun pejabat negara bukanlah tradisi intelektual yang baik dan tidak mencerminkan nilai-nilai keislaman,” tegas Gus Yayak.

Sebagai organisasi yang berbasis pada nilai-nilai pesantren, BASIRA mengingatkan pentingnya menonjolkan aspek tawadhu’, adab, dan akhlakul karimah dalam ranah politik. Perbedaan pandangan politik dinilai sebagai hal yang lumrah, namun persaudaraan sesama anak bangsa adalah hal yang mutlak dijaga.

Lebih lanjut, Gus Yayak menekankan bahwa bangsa Indonesia saat ini membutuhkan kontribusi pemikiran dan solusi konkret demi menghadapi tantangan global, bukan sekadar riuh rendah caci maki di media sosial maupun jalanan.

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi jangan kehilangan adab. Kritiklah kebijakannya jika memang ada yang perlu diperbaiki, bukan menyerang pribadi. Bangsa ini membutuhkan gagasan dan solusi, bukan saling menghina,” lanjutnya.

Di akhir penyataannya, BASIRA Nganjuk mengajak seluruh elemen masyarakat—mulai dari kalangan mahasiswa, santri, tokoh agama, hingga generasi muda—untuk merapatkan barisan. Mereka diminta bersama-sama mengawal jalannya roda pemerintahan dengan cara yang elegan.

“Persatuan bangsa harus tetap menjadi prioritas. Mari kita kawal kebijakan pemerintah secara kritis namun tetap santun, demi Indonesia yang lebih maju dan sejahtera,” pungkas Gus Yayak.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru