Gus Baha Adalah Cermin Retak Kita

Gus Baha bersama Ning Winda Istrinya (Sketsa SRTV)
Gus Baha bersama Ning Winda Istrinya (Sketsa SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Di tengah riuhnya panggung dakwah yang sering kali dipenuhi dengan penghakiman dan standar moralitas yang kaku, muncul sosok KH Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha. Ia hadir bukan sebagai hakim yang membawa palu godam, melainkan sebagai sebuah cermin. Namun, bukan cermin bening yang memantulkan kesempurnaan; Gus Baha adalah cermin retak bagi kita semua.

Disebut "cermin retak" karena Gus Baha tidak pernah menuntut pengikutnya untuk tampil tanpa cela. Lewat gaya bicaranya yang santai, sering kali dibumbui tawa renyah, ia memantulkan realitas keberagamaan kita yang sebenarnya: penuh lubang, sering kali keliru, namun tetap berhak atas rahmat Tuhan. Ia membedah kitab-kitab klasik dengan logika yang begitu membumi, seolah berkata bahwa menjadi religius tidak harus kehilangan akal sehat.

Saat kita bercermin padanya, kita tidak melihat sosok suci yang tak terjangkau. Kita justru melihat pantulan diri kita yang "retak"—yang kadang malas ibadah, yang masih sering berbuat salah, namun diingatkan bahwa pintu Tuhan tidak pernah benar-benar terkunci. Gus Baha mengajak kita berdamai dengan keretakan itu tanpa harus berhenti memperbaikinya.

Dunia modern sering kali memaksa kita menggunakan topeng kesalehan. Media sosial menuntut citra yang estetik dan tanpa cacat. Gus Baha mendobrak itu semua. Dengan kemeja putih sederhana dan peci yang sering kali miring, ia menunjukkan bahwa substansi jauh lebih penting daripada sekadar kemasan.

Ia sering kali menyindir secara halus bagaimana kita sering merasa paling benar hanya karena sudah melakukan sedikit kebaikan. Retakan pada cermin itu justru berfungsi untuk memecah keangkuhan kita. Ia membuat kita bertanya kembali: "Apakah kesalehan kita ini tulus, atau hanya sekadar upaya menutupi rasa rendah diri di hadapan manusia?"

Salah satu kekuatan Gus Baha adalah "logika bahagia". Di saat dunia mendefinisikan sukses dengan tumpukan materi dan pencapaian karier, ia justru menawarkan sudut pandang yang sangat kontras. Baginya, bisa sujud dan mengenali Tuhan sebagai pemilik semesta sudah merupakan puncak dari segala kesuksesan.

"Cermin retak" ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak butuh prasyarat yang rumit. Jika kita melihat pantulan diri kita di sana, kita akan sadar bahwa banyak penderitaan kita muncul karena kita terlalu sibuk memoles cermin agar terlihat sempurna di mata orang lain, hingga lupa menikmati hidup yang apa adanya.

Gus Baha tetaplah Gus Baha, seorang alim yang memilih jalan sunyi namun suaranya menggema ke mana-mana. Ia adalah cermin yang sengaja retak agar kita tidak silau oleh cahaya kesempurnaan yang semu.

Melalui beliau, kita belajar bahwa meski kita adalah pribadi yang penuh kekurangan dan memiliki banyak "retakan" dalam hidup, kita tetap bisa menjadi hamba yang dicintai. Ia mengajak kita berhenti berpura-pura sempurna dan mulai belajar menjadi manusia yang jujur di hadapan Penciptanya. Gus Baha adalah pengingat bahwa dalam keretakan itulah, cahaya rahmat Tuhan justru bisa masuk lebih dalam.(Salam Redaksi)

Editor : SRTVRedaksi