Asal Usul Nama Ngluyu dan Larangan Batik Parang Rusak

Watu Gandul di Ngluyu, saksi bisu legenda Kala Haluyu dan asal usul nama daerah
Watu Gandul di Ngluyu, saksi bisu legenda Kala Haluyu dan asal usul nama daerah

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Tersembunyi di lereng gunung Pandan Desa Ngluyu, terdapat fenomena alam unik bernama Watu Gandul. Batu raksasa yang posisinya seolah menggantung ini bukan hanya keajaiban alam, melainkan juga menyimpan kisah legenda yang sangat kuat, termasuk asal usul nama daerah dan makna di balik motif batik yang dilarang dipakai di lokasi tersebut.

"Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang jin bernama Kala Haluyu. Ia tinggal sendirian di tengah hutan dan sangat terkenal karena kekuatan gaibnya. Ia bisa berubah wujud menjadi manusia, namun sifatnya sangat jahat karena suka membunuh dan memakan manusia," demikian bunyi cerita yang turun-temurun, seperti dikutip Sukadi, sejarawan Nganjuk yang juga aktif di Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kota Sejuk), Senin (27/4/2026)

Ceritanya, Kala Haluyu ingin berguru kepada Begawan Surongmungujoyo. Di antara murid lainnya, penampilannya selalu paling menarik karena selalu memakai pakaian bermotif Batik Parang Rusak. 

Sayangnya, motif ini justru membuatnya semakin sombong dan angkuh, bahkan ia melarang orang lain memakai motif yang sama.

"Kenapa kamu memakai motif yang mirip dengan saya? Ini motifku, bukan milikmu," kata Kala Haluyu dengan angkuh salam cerita itu.

Sikap sombong ini memicu pertikaian hingga berakhir dengan kematian salah seorang murid. Mengetahui hal tersebut, gurunya pun bertindak tegas. 

Dengan kesaktian menggunakan surban ajaib, Begawan memelintir tubuh Kala Haluyu dan menjebakkannya di antara dua batu besar di lereng bukit sehingga tidak bisa bergerak lagi.

Sebelum terkunci selamanya, Kala Haluyu sempat mengancam dengan marah.

"Ha..ha..., dengarkan Begawan, Aku akan membunuh dan memakan siapa saja yang memakai pakaian seperti milikku, saat mereka lewat di depanku. Kapan saja!" teriaknya.

Mendengar ancaman itu, Begawan pun melarang masyarakat memakai Batik Parang Rusak ketika melewati lokasi tersebut. 

Peristiwa inilah yang kemudian melahirkan nama tempat. Batu besar yang menggantung itu disebut "Watu Gandul", sedangkan nama Kala Haluyu diabadikan menjadi nama wilayah tersebut, yaitu "Ngluyu".

"Sejak itu, masyarakat mengenali tempat ini bukan hanya sebagai formasi batu alam, tetapi sebagai saksi bisu sejarah dan legenda yang hidup di hati masyarakat," pungkas Sukadi yang juga menjadi Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Nganjuk.

Editor : SRTVRedaksi