NGANJUK, SRTV.CO.ID – Pagi belum sepenuhnya merekah ketika Sunarmi melangkah keluar dari pintu rumahnya di Desa/Kecamatan Ngronggot, Kabupaten Nganjuk. Langkah kakinya yang mulai bergetar membawanya entah kemana, menyusuri jalanan demi mencari tumpukan rumput.
Bagi nenek sebatang kara ini, berjalan menjauh dari rumah adalah cara terbaik untuk melupakan rasa takut yang mencengkeram dadanya setiap kali berada di dalam rumah. Ia baru akan kembali saat matahari mulai meredup di ufuk barat.
"Mbok itu orangnya suka mandiri. Keadaannya juga yang pas-pasan jangankan untuk perbaikan rumah, untuk makan pun harus dari hasil cari rumput," ucap Supriatin, anak perempuan semata wayangnya, saat ditemui wartawan pada Kamis (11/6/2026).
Rumah yang menjadi tempat berteduh Mbah Sunarmi memang jauh dari kata layak. Dinding temboknya sudah retak menanti waktu untuk roboh, sementara atapnya ditopang oleh jajaran bambu yang telah lapuk dimakan usia.
Di sudut lain, kepulan asap dapur berasal dari tungku kayu seadanya, dikelilingi oleh dinding anyaman bambu yang sudah bolong di sana-sini.
Rumah itu tidak lagi menjadi pelindung, melainkan sumber kecemasan yang terus-menerus mengikis ketenangan jiwa sang nenek.
"Mbok sudah hampir dua tahun tinggal di rumah yang temboknya rawan roboh dan atap genteng kayu yang rapuh. Yang jelas, rumah ini sudah tidak layak huni," uungkap Supriatin dengan nada getir menceritakan keseharian ibunya.
Kondisi lingkungan yang memprihatinkan ini perlahan-lahan mulai berdampak pada kesehatan mental Mbah Sunarmi. Goncangan angin dan ancaman ambruknya atap membuat psikologisnya terguncang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman, justru berubah menjadi momok yang menakutkan, terutama ketika kegelapan malam mulai turun dan menutup hari.
"Setiap malam ia tidak bisa tidur nyenyak, terutama bila hujan turun. Pasalnya, rumah yang dia huni rawan roboh. Apalagi kalau musim hujan, gentingnya bocor semua," kata Supriatin menahan kesedihan.
Kini, di tengah keterbatasan materi dan kondisi fisik yang kian menua, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh Mbah Sunarmi selain bertahan hidup dari hari ke hari.
Asa kecil masih tersisa di hati keluarga kecil ini, berharap ada uluran tangan yang mampu mengubah nasib dan memberikan tempat bernaung yang lebih manusiawi.
"Harapan satu-satunya saat ini, semoga ada dermawan atau pihak pemerintah yang peduli untuk memberikan perbaikan rumah untuk Mbah Sunarmi," pungkas sang anak penuh harap
Editor : SRTVRedaksi