Cerita "Isa Al-Masih hingga Imam Mahdi " yang Turun di Kampus Putih

Isa Al-Masih dan Imam Mahdi : kisah unik tentang dua nama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan akademik UMM
Isa Al-Masih dan Imam Mahdi : kisah unik tentang dua nama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan akademik UMM

MALANG, SRTV.CO.ID — Ada yang berbeda dalam Wisuda ke-123 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Bukan hanya karena ribuan lulusan resmi menyandang gelar akademik, tetapi juga karena sebuah nama membuat suasana prosesi berubah riuh. 

Isa Al-Masih Putra Muhammadiyah, salah seorang wisudawan yang tampil mewakili rekan-rekannya, membuka pidatonya dengan memperkenalkan nama yang sejak awal mengundang perhatian.

“Perkenalkan, nama saya Isa Al-Masih. Tenang, tenang, tenang. Ada lanjutannya, Pak Rektor. Putra Muhammadiyah,” ujar Isa. 

Kalimat itu sontak disambut tepuk tangan dan sorak para wisudawan serta tamu undangan. Momen tersebut terekam dalam unggahan akun Instagram resmi UMM pada Jumat, 25 September 2026, dan menjadi bagian menarik dari rangkaian prosesi wisuda.

Isa kemudian mengaitkan namanya dengan seorang alumni UMM yang sebelumnya juga memiliki nama tak kalah unik, yakni Imam Mahdi alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Dari situlah humor dalam pidatonya berkembang. Ia mengajak para wisudawan membayangkan sebuah pertanyaan, jika UMM pernah meluluskan Imam Mahdi dan kini mewisuda Isa Al-Masih, di mana keduanya “turun”?

“UMM dahulu pernah meluluskan mahasiswa FEB bernama Imam Mahdi. Hari ini, UMM kembali meluluskan Isa Al-Masih. Sebetulnya Imam Mahdi dan Isa Al-Masih turun di mana? Jawabannya sederhana. Di Kampus Putih kita,” kata Isa. Sontak, kalimat tersebut kembali disambut tepuk tangan dan sorak-sorai dari para hadirin.

Di balik kelakar tentang dua nama tersebut, Isa membawa pidatonya pada pesan yang jauh lebih dalam. Ia mengingatkan para wisudawan bahwa toga yang dikenakan hari itu bukan semata-mata hasil perjuangan pribadi.

Ada orang tua, keluarga, dan para dosen yang selama bertahun-tahun memberikan dukungan, membimbing, dan membuka jalan hingga mereka mencapai hari kelulusan.

“Kalau hari ini kami berdiri dengan toga, sesungguhnya ada tangan Bapak Ibu yang menopang kami di balik toga itu. Maka tepuk tangan paling panjang hari ini bukanlah untuk kami, tetapi untuk Bapak Ibu dosen, untuk orang tua kita semuanya,” ucap Isa.

Pesan tersebut mengubah suasana dari sekadar humor menjadi penghormatan kepada mereka yang berada di balik keberhasilan para lulusan.

Sementara itu, Rektor UMM Prof. Nazaruddin Malik, M.Si. menyampaikan bahwa kampus sedang melakukan transformasi, dari sekadar penyedia pengetahuan menjadi institusi yang turut menawarkan solusi atas berbagai persoalan di masyarakat melalui UMM Excellent Solution Center (ESC). 

Transformasi tersebut ditopang tiga pilar, yakni Service Excellence Hub, Industry Solution Partner, serta Innovation and Talent Incubator. Menurutnya, kelulusan bukanlah akhir perjalanan pendidikan, melainkan awal untuk terus belajar dan memberikan pengabdian.

Pesan tersebut sejalan dengan penutup pidato Isa: menjadi sarjana bukan berarti berhenti pada pencapaian akademik. Para lulusan diharapkan mampu bergerak, menggerakkan, dan hadir bersama masyarakat.

Maka, di tengah toga dan gegap gempita Wisuda ke-123 UMM, cerita tentang Isa Al-Masih dan Imam Mahdi “turun di Kampus Putih” bukan sekadar humor di atas podium.

Ia menjadi kisah unik tentang dua nama yang pernah menjadi bagian dari perjalanan akademik UMM, sekaligus pengingat bahwa di balik setiap nama dan gelar sarjana, selalu ada perjuangan keluarga, dosen, dan kampus yang mengantarkan mereka menuju babak kehidupan berikutnya.

Berdasarkan sumber valid, Isa Almasih melanjutkan study S2 di Kampus yang sama. (M.Roissudin)

Editor : SRTVRedaksi