BLITAR, SRTV.CO.ID - Alun-Alun Lodoyo di Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, mendadak berubah menjadi lautan manusia sejak Kamis (27/8/2026) pagi.
Ribuan warga dari berbagai penjuru daerah rela berdesakan di tengah riuh ritual tahunan jamasan Gong Kyai Pradah.
Gemuruh antusiasme membumbung saat pusaka sakral itu mulai diarak menuju menara utama di tengah alun-alun.
"Setiap tahun saya ke Blitar memang untuk menunggu momen ini. Berburu air bekas siraman," kata Sulastri, warga asal Panggungrejo, Kabupaten Blitar.
Bagi warga setempat maupun pendatang dari luar daerah seperti Malang, Surabaya, hingga luar Pulau Jawa, ritual ini bukan sekadar pertunjukan budaya biasa.
Tetesan air bekas siraman pusaka dipercaya membawa berkah yang luar biasa.
Anak-anak muda meyakini air tersebut dapat menjaga keremajaan diri, sementara warga senior berharap air siraman itu menjauhkan mereka dari segala bala dan malapetaka.
"Puncak dari ritual adalah membawa gong ke menara dan selanjutnya dimandikan. Ritual dipimpin langsung oleh sesepuh warga setempat," ungkap salah satu panitia penyelenggara di lokasi.
Arak-arakan Gong Kyai Pradah mendapat pengawalan yang sangat ketat dari aparat dan panitia setempat.
Meski ratusan tangan berusaha menjangkau dan menyentuh badan gong sepanjang perjalanan menuju menara, hanya sedikit yang berhasil menembus barikade penjagaan.
Suasana haru dan harap bercampur jadi satu saat sesepuh adat bersama Bupati Blitar dan jajaran Forkopimda mulai mengucurkan air ke atas pusaka.
"Bagi warga Blitar, Gong Kyai Pradah adalah pusaka paling sakral yang diyakini memiliki kekuatan gaib serta media untuk memohon berkah," tutur sesepuh adat di sela-sela prosesi jamasan.
Gong Kyai Pradah sendiri menyimpan rekam jejak sejarah yang panjang dan sarat dengan nilai mistis. Dahulu, pusaka ini bernama Bendil Kiai Bicak milik Ki Ageng Selo yang kemudian diwariskan kepada Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Karisma pusaka ini melintasi jaman hingga akhirnya dibawa ke Blitar oleh Pangeran Prabu saat beliau tersingkir dari istana Kerajaan Mataram di Kartasura.
"Selain Gong Kiai Pradah, pada waktu yang sama juga dilaksanakan ritual siraman pusaka Wayang Kiai Bonto di Desa Kebonsari, Kecamatan Kademangan," tambah narator acara ritual.
Tradisi jamasan pusaka peninggalan Pangeran Prabu ini membuktikan bahwa akar budaya dan kepercayaan spiritual masyarakat Jawa tetap menghujat kuat di tengah era modernisasi.
Momen siraman pusaka tidak hanya merawat fisik peninggalan sejarah, tetapi juga merawat tali silaturahmi dan ketentraman batin ribuan warga yang hadir.
Editor : SRTVRedaksi