NGANJUK, SRTV.CO.ID – Di tengah dinginnya malam yang menusuk, seorang pria lansia bernama Sojo (66) harus rela melewatkan hari-harinya dalam kesunyian yang mendalam.
Kakek asal Desa Sugihwaras, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk ini tinggal sebatang kara di sebuah gubuk sederhana yang jauh dari kata layak.
Rumah yang telah berdiri lebih dari 20 tahun itu kini menjadi saksi bisu perjuangannya bertahan hidup di usia senja.
"Kalau hujan bocor semua," ungkap Sojo lirih saat ditemui di kediamannya, Kamis (9/7/2026).
Perkataan itu bukan hiperbola. Setiap kali hujan deras mengguyur, air dengan mudah menerobos masuk dan menggenangi seisi rumah, memaksa tubuh rentanya mencari sudut yang kering.
Sehari-hari, Sojo menyambung hidup dengan mencari rumput untuk ternak atau mengambil pekerjaan serabutan apa saja yang ditawarkan tetangga.
Urusan perut pun sering kali tak menentu; ia kadang membeli di warung atau mengandalkan kiriman makanan dari saudaranya yang tinggal tak jauh dari sana.
Kedua anaknya telah lama pergi mengikuti suami masing-masing, sementara sang istri pun sudah lama berpisah dengannya.
Kini, ia benar-benar sendiri, berteman dengan bayang-bayang rumahnya yang kian memprihatinkan dan rawan roboh.
"Ada, sempat roboh temboknya," ujar Sojo saat mengenang terjangan angin kencang di masa lalu yang sempat merobohkan bagian tembok rumahnya yang dulunya merupakan bekas kandang.
Ancaman itu nyata, dan setiap kali angin kencang kembali berembus, rasa cemas langsung menyergap benaknya. Tembok dan genteng yang sudah lapuk membuat malam-malamnya sering diliputi ketakutan.
Kesedihan Kakek Sojo tidak berhenti di situ. Saat malam menjemput, gubuknya diselimuti kegelapan karena tidak adanya aliran listrik pribadi.
Satu-satunya cahaya di dalam rumah itu berasal dari seutas kabel lampu yang menumpang dari rumah sepupunya di bagian depan.
"Tidak ada listrik pribadi, itu hanya saluran dari rumah yang ada di depan itu, rumah milik sepupu. Sebelumnya memang tidak pernah pasang listrik," kata Sojo dengan nada pasrah.
Jangankan listrik yang memadai, untuk merebahkan punggung rapuhnya setelah seharian bekerja pun, Sojo hanya mengandalkan selembar tikar tipis tanpa empuknya kasur.
Selama lebih dari dua dekade, rumah tersebut belum pernah sekalipun tersentuh renovasi. Sojo mengaku bukan tidak berusaha, ia sudah pernah mengajukan permohonan bantuan perbaikan rumah kepada pihak terkait, namun hingga kini asa itu belum juga terwujud.
Sejauh ini, uluran tangan yang datang baru sebatas bantuan sembako berupa beras dan bantuan uang tunai senilai Rp 900.000 yang baru ia terima sekali.
"Belum pernah direnovasi. Sebenarnya sudah pernah mengajukan, tapi belum dapat. Bantuan hanya beras sama uang Rp900 ribu," tutup Sojo, menyiratkan harapan yang mulai terkikis waktu.
Di sisa usianya, Kakek Sojo hanya bisa terus bertahan di bawah atap yang bocor dan dinding yang kian rapuh.
Di dalam hati kecilnya, ia masih menyimpan secercah harap semoga suatu saat nanti, ada uluran tangan nyata yang sudi memperbaiki tempatnya bernaung sebelum senja benar-benar berganti malam.
Editor : SRTVRedaksi