Kemarau Melanda Lengkong, Tanaman Jagung di Desa Ngepung Mengering, Petani Menjerit Kekurangan Air

Geografi Desa Ngepung yang berada di kawasan dataran tinggi menjadi faktor utama sulitnya mendapatkan pasokan air (Mr Boni, SRTV)
Geografi Desa Ngepung yang berada di kawasan dataran tinggi menjadi faktor utama sulitnya mendapatkan pasokan air (Mr Boni, SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Ancaman kekeringan kembali membayangi sektor pertanian di Kabupaten Nganjuk. Kali ini, para petani jagung di Desa Ngepung, Kecamatan Lengkong, harus menghadapi kenyataan pahit lantaran tanaman mereka terancam gagal panen akibat krisis air yang mulai melanda pada Kamis (4/6/2026).

Geografi Desa Ngepung yang berada di kawasan dataran tinggi menjadi faktor utama sulitnya mendapatkan pasokan air. Selain sumber mata air yang terlampau dalam, wilayah yang berbatasan langsung dengan sisi timur Nganjuk ini juga belum tersentuh oleh jaringan air bersih (PAM).

"Tanaman jagung itu sangat sensitif. Bahkan perubahan kecil dalam ketersediaan air dapat memengaruhi pertumbuhan. Jelas, kurangnya pasokan air bisa berdampak pada hasil panen yang menurun drastis," tutur Siswo, salah satu perangkat desa setempat.

Pantauan di lapangan menunjukkan dampak kekeringan yang kian mengkhawatirkan. Kondisi tanpa air yang terus-menerus ini menyebabkan batang dan daun jagung mengering hingga menjadi rapuh. 

Fenomena ini otomatis menghentikan proses fotosintesis dan memberikan tekanan berat pada kelangsungan hidup tanaman.

Melihat kondisi yang kian kritis, para petani kini hanya bisa menaruh harapan besar pada kebijakan pemerintah daerah. Mereka sangat membutuhkan intervensi nyata agar roda perekonomian dari sektor pertanian tidak lumpuh total.

"Petani Desa Ngepung berharap ada solusi baik dari Dinas Pertanian juga Pemkab Nganjuk, agar kami petani di sini tidak kekurangan air di musim kemarau," ungkap Siswo menyampaikan aspirasi warga.

Saat musim penghujan tiba, warga Desa Ngepung sebenarnya memiliki kearifan lokal bernama sistem "Kerah Kampung Ramah Air Hujan". Mereka terbiasa menadah dan menampung air hujan ke dalam bak penampungan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti minum dan mandi.

Namun, metode tersebut sama sekali tidak berkutik ketika musim kemarau datang dan sumur-sumur warga mulai mengering.

"Kesulitan kami di musim kemarau adalah harus dari mana warga kami bisa mendapatkan air," pungkas Siswo dengan nada penuh harap.

Editor : SRTVRedaksi