JOMBANG, SRTV.CO.ID – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur, Wiwin Sumrambah, mengajak seluruh generasi muda menjadikan semangat dan nilai perjuangan Ir. Soekarno atau Bung Karno sebagai pedoman hidup utama, terlebih di tengah tantangan zaman yang kian kompleks dan dinamis.
Menurutnya, sosok Proklamator Kemerdekaan RI itu sepanjang hidupnya tidak pernah memikirkan keuntungan pribadi atau golongan semata, melainkan mengabdikan seluruh jiwa raga untuk memperjuangkan kemerdekaan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.
Pesan mendalam tersebut disampaikan Wiwin saat menghadiri Sarasehan Bulan Bung Karno yang digelar DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang di aula kantor partai, Senin (1/6/2026) malam.
Kegiatan yang bertepatan dengan peringatan bersejarah Hari Lahir Pancasila ini dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa, akademisi, budayawan, hingga pemerhati sejarah.
Diskusi membedah jejak hidup dan pemikiran besar Bung Karno, dengan sorotan khusus pada dugaan lokasi kelahiran beliau di Desa Ploso, Kabupaten Jombang.
Dalam pemaparannya, Wiwin menekankan bahwa salah satu pelajaran paling penting dan tak ternilai dari Bung Karno adalah semangat "Jas Merah", atau pesan terkenal "jangan sekali-kali meninggalkan sejarah". Baginya, sejarah adalah fondasi yang memperkokoh keberadaan bangsa ini.
"Bung Karno akan selalu mengajarkan kita dengan semboyan Jas Merah itu. Sebab dari sejarah lah yang memperkuat bangsa ini. Bangsa Indonesia didirikan oleh para pendahulu dan pejuang dengan tumpahan darah, air mata, serta pengorbanan yang tak terhitung nilainya," tegas Wiwin saat diwawancarai awak media.
Lebih jauh, ia juga mendorong generasi muda untuk memperkuat budaya literasi dan gemar membaca. Hal ini dinilainya sebagai bentuk penghormatan tertinggi terhadap sejarah bangsa, sekaligus cara cerdas menambah wawasan dan pengetahuan agar tidak mudah terombang-ambing arus informasi.
"Segala pemikiran besar itu banyak tertulis di dalam buku-buku sejarah. Maka, lakukan literasi seluas-luasnya. Ini adalah upaya penguatan jati diri bangsa sekaligus bentuk penghormatan kepada para penulis yang telah mewariskan harta pengetahuan bagi generasi berikutnya," ujarnya.
Secara khusus, Wiwin menitipkan pesan mendalam kepada Generasi Z dan kaum milenial agar meneladani jiwa pengabdian Bung Karno yang selalu mengutamakan kepentingan rakyat dan negara di atas kepentingan pribadi.
"Lihatlah sosok Bapak Proklamator kita, Ir. Soekarno. Beliau tidak pernah memikirkan dirinya sendiri, tidak pernah berusaha memperkaya diri sendiri saat memperjuangkan kemerdekaan dan membangun negara ini. Yang selalu ada di pikiran beliau hanya satu: bagaimana caranya seluruh masyarakat Indonesia bisa hidup makmur, sejahtera, dan bahagia. Jadikan semangat Bung Karno sebagai jalan hidup kita semua agar terus berjuang mewujudkan cita-cita Indonesia yang sejahtera," pungkasnya.
Bukan Sekadar Polemik Tempat Lahir, Tapi Menggali Pemikiran Besar
Sementara itu, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Jombang, Sumrambah, menjelaskan bahwa sarasehan ini merupakan forum diskusi rutin yang telah lama berjalan, dan kali ini mengambil momentum spesial peringatan 1 Juni atau Hari Lahir Pancasila.
Menurutnya, diskusi mengenai tempat lahir Bung Karno bukanlah semata-mata ajang memperdebatkan lokasi kelahiran sang Proklamator, melainkan menjadi pintu masuk strategis untuk kembali menggali dan memahami gagasan-gagasan besar yang pernah dicetuskan beliau.
"Ini sebenarnya forum diskusi yang sudah lama berjalan. Kebetulan kami mengambil momentum tanggal 1 Juni untuk kembali membedah dan mendiskusikan jejak kelahiran Bung Karno. Namun, intinya bukan sekadar di mana beliau lahir, melainkan apa yang bisa kita pelajari dari pemikiran beliau," ujar Sumrambah saat membuka acara.
Ia menambahkan, hal yang jauh lebih krusial dan ingin digali bersama adalah bagaimana generasi muda dapat memahami kembali konsep-konsep cerdas Bung Karno mengenai Marhaenisme, Trisakti, serta berbagai gagasan kebangsaan lainnya yang ternyata masih sangat relevan dan dibutuhkan hingga saat ini.
"Paparan dari kedua pihak yang berbeda pandangan tadi sangat menarik. Yang ingin kami gali sebenarnya bukan sekadar kontroversi tempat lahirnya, melainkan bagaimana pemikiran Bung Karno tentang marhaenisme, Trisakti, dan implementasinya di kehidupan masa kini bisa kembali dipahami dan diamalkan generasi muda," katanya.
Sumrambah juga menilai, forum semacam ini menjadi sarana pendidikan politik dan sejarah yang efektif, sekaligus bagian dari proses peningkatan kapasitas wawasan para kader maupun kalangan muda agar pemahaman kebangsaan terus bertambah dan tidak kaku.
"Banyak mahasiswa yang hadir dan berdiskusi aktif. Ini bagian dari proses upgrading atau peningkatan kualitas diri agar keilmuan kita terus bertambah dan tidak monoton," tandasnya.
Mengungkap Bukti-Bukti Sejarah yang Mengarah ke Ploso
Dalam sesi pemaparan, sastrawan dan penulis asal Jombang, Binhad Nur Rohman, membeberkan hasil penelusuran mendalamnya mengenai dugaan kuat bahwa Bung Karno lahir di wilayah Ploso, Jombang. Ia mengaku, dulunya ia juga meyakini literatur umum yang menyebutkan Surabaya sebagai tempat lahir, namun keyakinannya berubah setelah mendalami cerita lisan masyarakat setempat.
"Awalnya saya juga mengikuti catatan umum, Bung Karno lahir di Surabaya. Namun lama-kelamaan saya terusik dengan cerita-cerita lisan yang terus berkembang dan diwariskan turun-temurun di sini. Inti dari rangkaian cerita itu menyebutkan, saat ayah beliau, Raden Soekeni Sosrodihardjo, bertugas mengajar di Ploso, di sanalah Soekarno lahir," ungkap Binhad.
Kekuatan cerita tersebut, menurut Binhad, terletak pada fakta bahwa sejumlah tokoh yang disebut dalam cerita rakyat itu bukanlah tokoh fiktif. Keberadaan mereka berhasil ditelusuri, mulai dari makam, silsilah keluarga, hingga garis keturunannya yang masih hidup dan tinggal di wilayah Ploso hingga sekarang.
"Menariknya, sosok-sosok lokal yang ada di dalam cerita tutur tersebut nyata adanya, bukan rekayasa," tegasnya.
Binhad juga menunjukkan bukti fisik berupa keberadaan bangunan bekas Sekolah Ongko Loro di Desa Rejoagung yang diyakini sebagai lokasi tempat Raden Soekeni mengajar.
Tidak jauh dari lokasi itu, masih terlihat sisa pondasi rumah yang dipercaya sebagai rumah dinas guru sekaligus tempat kelahiran sang Proklamator.
"Berdasarkan rangkaian fakta cerita, silsilah, dan bukti fisik ini, keyakinan saya bulat. Bung Karno ini lahir di Ploso, Jombang. Bukan di Surabaya," ucapnya tegas.
Selain Binhad, Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Jombang juga turut memaparkan sejumlah temuan pendukung lain, mulai dari kisah tentang sosok yang merawat Bung Karno saat masih bayi, hingga keberadaan makam ari-ari atau plasenta yang dipercaya keluarga dimakamkan di wilayah tersebut.
Akademisi Unesa: Kajian Masih Perlu Diperkuat
Di sisi lain, Dosen Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Surabaya (Unesa) sekaligus anggota Dewan Kebudayaan Surabaya, RN Bayi Aji, menyampaikan pandangan yang lebih hati-hati.
Menurutnya, berbagai literatur sejarah dan arsip resmi yang tersedia secara nasional hingga saat ini masih mencatat Surabaya sebagai tempat kelahiran Bung Karno.
Salah satu dokumen rujukan kuat yang disebutkannya adalah arsip Pemerintah Jepang yang mencatat identitas lengkap Soekarno pada masa transisi kekuasaan menjelang kemerdekaan tahun 1945.
"Karena itu, menurut pendapat saya, kajian mengenai tempat lahir Bung Karno ini masih memerlukan penelitian mendalam, verifikasi silang, dan pembuktian ilmiah lebih lanjut dari berbagai sumber sejarah yang tersedia, baik dokumen tertulis maupun bukti fisik," ujar Bayi Aji.
Dorongan Agar Fakta Segera Ditetapkan
Sementara itu, Budayawan Jombang, Nasrul Illah atau akrab disapa Cak Nas, menilai dukungan yang diberikan PDI Perjuangan Jombang terhadap upaya penetapan Ploso sebagai lokasi kelahiran Bung Karno merupakan langkah positif yang sangat apresiatif. Baginya, respons cepat dari berbagai pihak menjadi energi baru untuk mendorong pengakuan resmi situs bersejarah tersebut.
"Siapa pun yang mendukung upaya pengungkapan sejarah ini tentu kami apresiasi setinggi-tingginya. Perlu diingat, Bung Karno adalah milik seluruh rakyat Indonesia, bukan milik kelompok atau partai politik tertentu saja," ujar Cak Nas.
Ia berharap pemerintah pusat segera mengambil keputusan tegas terkait status situs tersebut. Bahkan, Cak Nas menargetkan penetapan status cagar budaya atau situs sejarah itu dapat diselesaikan sebelum akhir tahun 2026 ini.
"Kalau bisa sebelum bulan September atau November sudah ada keputusan jelas. Jangan sampai lewat tahun ini, karena akan semakin berat prosesnya dan memudar ingatan sejarahnya," ujarnya berharap.
Cak Nas menambahkan, pihaknya bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang terus berkomunikasi serta mendorong tindak lanjut dari Kementerian Kebudayaan dan Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Timur. Tujuannya untuk memfasilitasi dialog terbuka antara pihak Jombang dan Surabaya.
Ia menegaskan, perdebatan mengenai lokasi kelahiran Bung Karno seharusnya tidak menjadi ajang saling mempertentangkan daerah atau memicu perselisihan, melainkan menjadi ruang kerja sama untuk mengungkap fakta sejarah secara ilmiah, terbuka, dan utuh.
"Yang terpenting adalah sejarahnya bisa diungkap secara lengkap, benar, dan menjadi pengetahuan bersama bagi kita semua," tutupnya.
Editor : SRTVRedaksi