Kang Marhaen Ikut Berbaur di Kenduri Seribu Tumpeng Makam Ki Ageng Keniten

Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menghadiri Kenduri Seribu Tumpeng dan Nyadran di Makam Ki Ageng Keniten. (Mr Boni SRTV)
Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, menghadiri Kenduri Seribu Tumpeng dan Nyadran di Makam Ki Ageng Keniten. (Mr Boni SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Ribuan warga Desa Karangsemi, Kecamatan Gondang, Kabupaten Nganjuk, tumpah ruah memadati area makam Ki Ageng Keniten. Kehadiran mereka tak lain untuk mengikuti agenda sakral Kenduri Seribu Tumpeng, sebuah tradisi budaya Nyadran sekaligus ziarah makam leluhur desa setempat. 

Suasana semakin meriah dan khidmat dengan hadirnya Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, beserta istri yang ikut berbaur langsung di tengah-tengah masyarakat.

Sejak turun dari mobil, pria yang akrab disapa Kang Marhaen ini bersama sang istri langsung dikawal ketat oleh panitia Nyadran yang berdandan ala pasukan kerajaan menuju makam Ki Ageng Keniten. 

Di sana, mereka melaksanakan upacara adat serta prosesi tabur bunga. Ki Ageng Keniten sendiri dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sosok pertama sekaligus tokoh yang melakukan babat alas atau mendirikan Desa Karangsemi.

"Tradisi Nyadran ini merupakan cetusan para wali saat menyiarkan agama Islam di tanah Jawa. Tradisi ini mengandung unsur pemersatu setiap perbedaan budaya di tengah masyarakat," jelas H Boniman selaku Ketua Panitia Nyadran di sela-sela acara.

Selain ritual keagamaan dan adat, acara ini juga dimeriahkan oleh pertunjukan hiburan wayang kayu di area punden Keniten. 

Bagi warga masyarakat Karangsemi, pementasan wayang kayu bukan sekadar hiburan pelepas penat seni semata, melainkan sudah menjadi bagian dari ritual upacara sakral tahunan yang wajib digelar demi menghormati leluhur.

"Tradisi Nyadran Makam Keniten merupakan kebudayaan yang mengajarkan nilai-nilai agama untuk berbakti kepada orang tua dan para leluhur. Oleh sebab itu, kebudayaan Nyadran ini harus tetap dilestarikan," Jelas H Boniman.

Sementara itu, Kepala Desa Karangsemi, Eni Suyati menjelaskan bahwa pergelaran Nyadran kali ini sengaja dinamakan gerakan Seribu Tumpeng. 

Menurutnya, selain sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang melimpah, tradisi tahunan ini terbukti sangat efektif sebagai media silaturahmi yang ampuh serta wadah pemersatu seluruh warga Desa Karangsemi.

"Tetap semangat nguri-nguri (melestarikan) budaya dan adat. Karena datangnya budaya dan adat itu duluan, dan kita sekarang tinggal merawat serta meneruskannya," katanya.

Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengapresiasi kegiatan nyadran yang sudah menjadi agenda tahunan di Desa Karangsemi tersebut.

"Kita terus meminta agar Nganjuk selalu diberi kenyamanan, adem, gemah ripah loh jinawi, terutama tingkatkan gotong royong. Nyadran ini juga bentuk persatuan dan saya salut warga Nganjuk, setiap ada agenda nyadran pasti ribuan yang hadir," kata Kang Marhaen penuh semangat di hadapan para warga.

Editor : SRTVRedaksi