Kejari Nganjuk Baksos dan ziarah makam Menteri Soepeno – srtv

  • Whatsapp

srtv.co.id Nganjuk | Dalam rangka memperingati Hari Pahlawan ke-76 tahun 2021, Kejari Nganjuk beserta pengurus IAD Daerah Nganjuk melaksanakan Baksos dengan memberikan paket sembako kepada 25 orang lansia kurang mampu warga Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk dan ziarah makam petilasan Menteri Soepeno (Menteri Era Orde Lama/Kemerdekaan) dengan penanggung jawab Sdr. Nophy Tennophero Suoth, SH, MH (Kajari Nganjuk).

Acara di mulai dengan pembukaan oleh Kades Ngliman bertempat di kantor Desa Ngliman Kecamatan Sawahan Kabupaten Nganjuk, “ucapan terimakasih kepada Bapak Kajari Nganjuk beserta jajaran yang berkenan hadir di balai Ds. Ngliman Kec. Sawahan Kab. Nganjuk dalam rangka Baksos kepada warga kami. Kami sangat tersanjung atas adanya kegiatan ini, dimana Kejari Nganjuk memiliki perhatian khusus kepada warga kami terutama warga kami yang kurang mampu. Semoga Baksos berupa paket sembako yang diberikan kepada warga bisa bermanfaat bagi warga dan merupakan bentuk sinergitas antara Pemerintah Ds. Ngilman Kec. Sawahan Kab. Nganjuk dengan Kejari Nganjuk.” Ujar Imam Widodo Kades Ngliman.

Bahwa dengan adanya pemberian paket sembako kepada warga yang kurang mampu tersebut, diharapkan dapat membantu meringankan beban warga yang kurang mampu akibat adanya pandemi Covid 19 yang sampai saat ini masih melanda negara kita termasuk Kab. Nganjuk, selain itu juga sebagai wujud kepedulian Kejari Nganjuk beserta Pengurus IAD Wilayah Kab. Nganjuk dalam membantu pemerintah mengatasi dampak wabah Covid 19.

“Mengucapkan terimakasih kepada Bapak Kades Ngliman beserta perangkat Ds. Ngliman yang telah berkenan memberikan tempat dan menyambut kami dari Kejari Nganjuk dalam rangka pemberian paket sembako kepada warga yang kurang mampu di Ds. Ngliman Kec. Sawahan Kab. Nganjuk. Kegiatan Baksos ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Pahlawan ke-76 tahun 2021 yang diselenggarakan oleh Kejari Nganjuk dan IAD Wilayah Nganjuk. Dengan pemberian Baksos dari Kejari Nganjuk ini diharapkan bisa membantu meringankan beban warga yang kurang mampu terutama para lansia yang kurang mampu akibat adanya pandemi Covid 19,” ujar Kajari Nganjuk.

Selanjutnya, Kajari Nganjuk dan pengurus IAD Nganjuk beserta rombongan ziarah ke makam petilasan Menteri Soepeno (Menteri era Orde Lama/Kemerdekaan) di Dsn. Ganter Ds. Ngliman Kec. Sawahan Kab. Nganjuk.

Dalam ziarah tersebut Kajari Nganjuk beserta rombongan disambut langsung oleh abdi dalem petilasan Menteri era Orde Lama/Kemerdekaan.

Soepeno lahir di Pekalongan, salah satu kota pesisir di pantai utara Jawa Tengah, pada 12 Juni 1916. Ayahnya, Soemarno, adalah seorang pegawai rendah yang bekerja di perusahaan kereta api milik pemerintah kolonial Hindia Belanda di Tegal.

Usai menamatkan sekolah menengah atas di Algemeene Middelbare School (AMS) Semarang, Soepeno melanjutkan pendidikannya ke Technische Hogeschool Bandung (cikal bakal ITB). Namun, baru 2 tahun, ia memilih pindah kuliah ke Recht Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum di Batavia.

Soepeno bergabung dengan Perkumpulan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), lalu terpilih sebagai ketua. Ia juga memimpin Badan Permusyawaratan Pelajar-Pelajar Indonesia (Baperpi) sejak 1941 (Julinar Said, dkk., Ensiklopedi Pahlawan Nasional, 1995: 50).

Selama di Jakarta, Soepeno tinggal di asrama PPPI di Jalan Cikini Raya 71. Ia menjadi ketua pondokan tersebut. Di asrama itulah untuk pertama kalinya Soepeno bertemu langsung dengan Mohammad Hatta (Yus Sudarso, Pribadi Manusia Hatta, 2002:36).

Soepeno menikah dengan Kamsitin Wasiyatul Chakiki Danoesiswoyo. Hampir setahun berselang, pada Agustus 1943, pasangan ini dikaruniai seorang putri yang diberi nama Soepeni Joedianingsih.

Soepeno ditunjuk Bung Hatta sebagai Menteri Pembangunan dan Pemuda dan mulai bertugas sejak pada 29 Januari 1948.

Tanggal 19 Desember 1948, Agresi Militer Belanda II dilancarkan. Sasaran utamanya adalah Yogyakarta, ibukota RI kala itu. Sukarno, Hatta, Sjahir, dan beberapa pemimpin republik lainnya ditawan, lalu diasingkan ke luar Jawa.

Beruntung, Soepeno dan beberapa pejabat tinggi negara lainnya selamat dari penangkapan. Namun, mereka harus bergerilya lantaran terus dikejar pasukan Belanda. Soepeno lolos karena sedang bertugas di luar Yogyakarta, tepatnya di Cepu, Jawa Tengah

Pada 20 Februari 1949, Soepeno dan kawan-kawan menjejakkan kaki di Dusun Ganter, Nganjuk. Di dusun ini, mereka menginap di rumah warga dan berniat menetap selama beberapa hari sebelum melanjutkan perjalanan yang entah kapan akan berakhir

Sudah tiga hari Soepeno dan lima rekannya singgah di Dusun Ganter. Pagi itu, 23 Februari 1949, mereka berniat meneruskan perjalanan menuju kaki Gunung Wilis untuk bergabung dengan pasukan gerilya Jenderal Soedirman.

Pada 24 Februari 1949 Soepeno dan lima rekannya sedang mandi di Dsn. Ganter Ds. Ngliman Kec. Sawahan namun saat itu ada pasukan Belanda yng kemudian menangkap mereka serta menembak mati Menteri Soepeno.

Jenazah Soepeno dan kawan-kawan dikebumikan di dusun tempat mereka dihabisi. Tepat setahun kemudian, pada 29 Februari 1950, jasad sang menteri dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan di Semaki, Yogyakarta.

Pemerintah RI menetapkan Soepeno sebagai Pahlawan Nasional pada 13 Juli 1970.

Sumber Informasi : Tim Penerangan Hukum Kejari Nganjuk

Pos terkait

banner 468x60

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *