JEMBER,SRTV.CO.ID - Jember menghadapi peningkatan kasus campak yang mulai mengkhawatirkan. Dinas Kesehatan Kabupaten Jember mencatat sebanyak 15 kecamatan telah masuk kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah puluhan kasus ditemukan sepanjang 2025 hingga 2026.
Informasi tersebut terungkap dalam rapat dengar pendapat antara Dinkes Jember, Komisi D DPRD Jember, serta para kepala puskesmas yang digelar pada Senin, 11 Mei 2026.
Kepala Dinkes Jember, Muhammad Zamroni menjelaskan bahwa penetapan status KLB dilakukan ketika dalam satu desa ditemukan sedikitnya dua kasus campak yang telah dinyatakan positif.
“Dari total 50 puskesmas yang tersebar di 31 kecamatan, terdapat 15 puskesmas yang saat ini masuk kategori KLB campak,” ujar Zamroni, Selasa (12/5/2026).
Berdasarkan data Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Jember, jumlah kasus suspek campak mencapai 119 kasus. Dari angka tersebut, sebanyak 40 kasus telah dipastikan positif setelah melalui pemeriksaan laboratorium.
Wilayah dengan jumlah kasus tertinggi tercatat berada di Kecamatan Ledokombo. Dari 12 kasus suspek yang ditemukan, delapan di antaranya dinyatakan positif campak. Sementara itu, Kecamatan Sumberjambe menempati urutan berikutnya dengan lima kasus positif.
Selain itu, Kecamatan Umbulsari, Mayang, dan Silo masing-masing melaporkan empat kasus positif. Khusus wilayah Silo, penyebaran kasus diketahui muncul di dua area kerja puskesmas yang berbeda. Sedangkan 10 puskesmas lainnya rata-rata mencatat dua kasus positif.
Kepala Bidang P2P Dinkes Jember, Rieta Wahyuningsih mengatakan pihaknya terus melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari pelacakan pasien hingga upaya pencegahan agar penularan tidak semakin meluas.
Menurut Rieta, proses mitigasi sebenarnya telah dilakukan secara maksimal. Namun, Dinkes masih dihadapkan pada kendala terbatasnya persediaan vaksin untuk menjangkau seluruh wilayah terdampak.
“Penanganan sudah kami lakukan maksimal, tetapi memang masih ada kendala keterbatasan vaksin,” katanya.
Terpisah, anggota Komisi D DPRD Jember, Muhammad Hafidi menilai laporan peningkatan kasus campak dan rubella tersebut perlu mendapat perhatian serius. Ia meminta Dinkes bergerak cepat karena penyakit tersebut memiliki tingkat penularan yang cukup tinggi.
Hafidi menegaskan, keakuratan data menjadi faktor penting agar langkah penanganan dapat dilakukan tepat waktu dan kebijakan yang diterapkan benar-benar sesuai kebutuhan di lapangan.
“Dari data yang disampaikan kemarin, kami ingin penanganannya benar-benar terukur. Jangan sampai kasus meluas karena lambat diantisipasi,” tegasnya saat dikonfirmasi pada Selasa pagi, 12 Mei 2026.
Komisi D DPRD Jember juga meminta seluruh puskesmas yang berada di wilayah KLB meningkatkan koordinasi dan memperkuat pertukaran informasi guna memutus rantai penularan campak dan rubella.
Ia menambahkan, pihak legislatif akan terus memantau langkah penanganan yang dilakukan Dinkes Jember, termasuk mendorong solusi terkait keterbatasan vaksin yang saat ini masih menjadi kendala utama di lapangan.
Editor : SRTVRedaksi