Hulu DAS Brantas Tercemar, Pelajar Jombang Temukan Mikroplastik dan Fosfat Empat Kali Lipat di Sungai Gogor

Reporter : Taufiqur Rachman
Para pelajar SMAN Mojoagung ketika mengamati sampel air sungai menggunakan mikroskop untuk mengidentifikasi partikel mikroplastik di pintu belakang Mobil Laboratorium Mikroplastik MIMO ECOTON.

JOMBANG, SRTV.CO.ID - Sungai Gogor di kawasan hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, Wonosalam, Jombang, tak lagi sepenuhnya bersih, hal itu seusai puluhan pelajar bersama Mobil Laboratorium Mikroplastik MIMO ECOTON telah menemukan 20 partikel mikroplastik dan kadar fosfat mencapai 0,8 ppm atau empat kali lipat dari ambang batas ketika mempelajari kondisi sungai secara langsung di sekitar Kedai Tanah Senja, Wonosalam, Minggu (25/10/2026).

Pemantauan itu menjadi kali pertama Mobil Laboratorium Mikroplastik MIMO ECOTON hadir di Wonosalam. Dan mengajak sebanyak 50 pelajar dari Polisi Air Wonosalam dan SCOUTNEMA SMAN 1 Mojoagung dilibatkan untuk mempelajari sekaligus meneliti kondisi sungai secara langsung area tersebut.

Dalam hasil pengamatan para pelajar ini saat dibagi menjadi tiga kelompok. Telah mengindentifikasi mikroplastik, dengan ditemukan 20 partikel dalam sampel air.

Sebanyak 12 partikel berbentuk serat, tujuh berupa film atau lembaran tipis, dan satu fragmen plastik.

Serat mendominasi, dengan sumber yang bisa berasal dari tekstil, sementara film dan fragmen berasal dari sampah plastik.

Kelompok pengukuran fosfat yang dipimpin Rendi Dwi Saputra juga mencatat angka 0,8 ppm. Nilai itu merujuk pada baku mutu Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 yang menetapkan acuan 0,2 ppm.

Kandungan fosfat berlebih berpotensi memicu pertumbuhan alga tak terkendali dan mengganggu ekosistem perairan.

"Limbah domestik menjadi salah satu kemungkinan sumber masukan fosfat yang perlu ditelusuri," ujar Rizki Putri, peserta dari Polisi Air Wonosalam.

Temuan ini menjadi pengingat bahwa menjaga sungai tidak cukup hanya dengan memungut sampah yang terlihat.

Pengurangan plastik sekali pakai dan pengelolaan limbah dari sumbernya adalah kunci. Bagi para pelajar, langkah itu dimulai dari hal sederhana, membawa botol minum sendiri dan tidak membuang sampah ke sungai.

"Melalui praktik pengambilan dan pengamatan sampel air menggunakan mikroskop, kami belajar bahwa mikroplastik dapat ditemukan di lingkungan perairan dan perlu dipantau lebih lanjut," pungkas Rizki Putri.

Selain itu, pemantauan makrozoobentos menemukan 17 individu dari famili Gammaridae, Atyidae, Veliidae, Simuliidae, Tabanidae, dan Mesoveliidae.

Keberadaan biota ini menjadi indikator biologis, meski penilaian status pencemaran tetap memerlukan pemeriksaan lanjutan dengan parameter lain.

"Kami dapat kesempatan mengamati keterkaitan antara organisme air, kondisi lingkungan, dan kemungkinan tekanan pencemaran terhadap ekosistem sungai," pungkas Julia Fahma siswi kelas IX B Polisi Air ini.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru