Warisan Rasa Kue Tradisional Plemben Turun-Temurun Tetap Diburu Saat Bulan Suro di Jombang

Reporter : M. Faiz Rahman

 

JOMBANG, SRTV.CO.ID - Di tengah gempuran aneka jajanan modern dan kue kekinian, eksistensi kuliner tradisional rupanya belum pudar. Kue-kue jadul masih memiliki tempat spesial di hati masyarakat. Salah satunya adalah kue plemben dan mawaran buatan Setyaningsih, warga Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombanng.

Baca juga: Kunjungan ke Jombang, Gibran Dorong Santri Siapkan Diri Hadapi Bonus Demografi lewat Penguatan Karakter

Berkat konsistensinya dalam menjaga resep warisan keluarga yang diturunkan dari generasi ke generasi, kue tradisional produksinya justru semakin diburu pembeli. Lonjakan permintaan ini terasa sangat signifikan, terlebih saat memasuki bulan Suro dalam penanggalan Jawa.

Aroma harum kue yang baru matang langsung menyengat hidung saat mendekati rumah produksi sederhana milik Setyaningsih. Di rumah itulah, setiap hari ia sibuk mengolah adonan tepung menjadi kue plemben. Cita rasa yang otentik dan tekstur kue yang lembut menjadi alasan utama mengapa produk rumahan ini tetap eksis dan dicari berbagai kalangan.

Setyaningsih mengungkapkan, saat bulan Suro tiba, omzet usahanya melonjak tajam dibanding hari-hari biasa. Hal ini dipicu oleh banyaknya masyarakat yang menggelar tradisi tahunan seperti sedekah desa, selamatan, hingga hajatan keluarga.

Baca juga: Pergelaran Ludruk di Jombang, Wiwin Sumrambah Ajak Warga Rawat Warisan Budaya Lewat Kisah Bung Karno

"Kalau bulan Suro seperti sekarang ini memang permintaannya melonjak tajam. Banyak yang pesan untuk acara selamatan dan sedekah desa. Kami tetap mempertahankan resep asli dari orang tua dulu, makanya rasanya tidak berubah dan pelanggan tetap setia," ujar Setyaningsih saat ditemui di kediamannya.

Untuk memenuhi tingginya permintaan pasar selama bulan Suro, usaha keluarga ini bahkan mampu menghabiskan sedikitnya 50 kilogram tepung terigu hanya dalam kurun waktu satu bulan.

Menariknya, pasar kue jadul ini tidak lagi terbatas di wilayah lokal seperti Kecamatan Bareng dan Mojowarno saja. Melalui getok tular dan pesanan khusus, kue plemben ini telah menjangkau wilayah Wonosalam, berbagai daerah di Kabupaten Jombang, Kota Malang, hingga menembus Pulau Kalimantan. Sebagian besar pembeli memesannya dalam jumlah besar untuk oleh-oleh maupun pelengkap acara adat.

Baca juga: Dari Berwirausaha, Mbak Dora Menjahit Asa Perempuan Gen Z Jombang untuk Tumbuh Bersama

Meskipun permintaannya tinggi, Rahma, selaku pengelola sekaligus anak dari Setyaningsih, memastikan bahwa harga yang dipatok tetap ramah di kantong masyarakat. Mereka tidak ingin menaikkan harga demi menjaga keterjangkauan bagi pelanggan setia.

"Kami sengaja menjaga cara pembuatan yang sederhana ini karena tekstur lembut dan aroma khasnya justru keluar dari proses tradisional tersebut. Untuk harga, kue plemben dijual mulai Rp 17.000 per kemasan. Sementara untuk aneka kue tradisional lainnya dibanderol mulai Rp 2.000 hingga Rp 25.000 per bungkus, atau Rp 60.000 jika membeli kiloan," jelas Rahma.

Di tengah cepatnya perubahan selera pasar dan tren kuliner modern, eksistensi usaha kue tradisional di Desa Ngampungan ini menjadi bukti nyata. Selama resep warisan asli terus dijaga dan dilestarikan, kuliner jadul seperti plemben tidak akan punah, melainkan tetap menjadi bagian penting dari kekayaan budaya kuliner Nusantara.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru