NGANJUK, SRTV.CO.ID – Kedatangan para biksu dari 4 negara di asia tenggara yang melakukan ritual jalan kaki (Thudong) dari Bali menuju Candi Borobudur mendapatkan sambutan hangat saat melintasi Kabupaten Nganjuk.
Perjalanan spiritual ini dinilai sebagai momentum penting untuk menunjukkan kuatnya rasa toleransi dan persaudaraan antar umat beragama di daerah tersebut.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Nganjuk, H. Solihin As'audi, menyampaikan bahwa ritual yang dilalui para biksu ini merupakan sebuah perjalanan suci yang penuh makna keagamaan.
"Buat mereka, ini sebuah perjalanan yang bersifat keagamaan untuk mengikuti Hari Waisak nanti di Borobudur. Ini sebuah perjalanan suci untuk perdamaian," ujar Haji Solihin di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Yoe Kiong atau Klenteng Sukomoro. Kamis (21/5/2026)
Kehadiran pihak FKUB di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Yoe Kiong sebagai tempat singgah para biksu bukan tanpa alasan. Haji Solihin menegaskan, aksi ini menjadi pesan kuat kepada dunia luar mengenai wajah asli masyarakat Nganjuk yang penuh kedamaian dan sangat menghargai perbedaan.
Lebih lanjut, ia juga memberikan imbauan khusus kepada masyarakat setempat agar ikut menyukseskan jalannya ritual ini dengan cara menjaga ketertiban di jalanan.
"Mereka melintas ini perlu mensupport. Yang penting itu jangan sampai mereka itu terganggu. Waktunya sudah dihitung sedemikian rupa. Nah, kalau ada gangguan di jalan itu sungguh akan merepotkan," tambahnya.
Sebagai tokoh umat Islam sekaligus tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Haji Solihin menegaskan bahwa tidak ada sekat dalam urusan kemanusiaan. Sikap ramah yang ditunjukkan warga merupakan refleksi nyata dari nilai-nilai Islam yang merangkul semua golongan.
"Yang kita tunjukkan adalah sifat humanioranya. Jadi menunjukkan kepada dunia bahwa Islam itu agama yang terbuka, agama yang moderat untuk semua golongan, semua agama, semua ras, dan seterusnya," pungkasnya hangat.
Editor : SRTVRedaksi