NGANJUK, SRTV.CO.ID – Suasana khidmat sekaligus gembira menyelimuti Dusun Codot, Desa Kepanjen, Kecamatan Pace. Di tengah hamparan pemandangan pedesaan yang asri, warga setempat kembali melestarikan tradisi luhur Nyadran atau Bersih Desa. Bukan sekadar kegiatan rutin tahunan, perhelatan ini memiliki ciri khas unik dan sakral. Kamis (14/5/2026)
Diawali dengan penyembelihan kerbau di halaman tokoh masyarakat, dilanjutkan dengan tradisi makan bersama kepala kerbau, hingga puncaknya dihiasi alunan musik dan tarian Tayuban. Ritual yang telah berlangsung berabad-abad ini menjadi bukti nyata kuatnya ikatan warga dengan budaya, alam, dan leluhur.
"Ritual sesaji ini bukan hanya sembelih kerbau saja, tidak lengkap kalau belum ada seni Langen Bekso atau Tayuban. Sembelih kerbau dan Tayuban adalah salah satu adat yang tak bisa ditinggalkan oleh warga masyarakat Dusun Codot, Desa Kepanjen," ungkap Sutriono, tokoh masyarakat setempat, menegaskan bahwa kedua elemen ini adalah paket utuh yang menjadi identitas tradisi mereka.
Bagi warga Dusun Codot, Bersih Desa bukan sekadar seremonial biasa, melainkan wujud nyata harmoni antara manusia dan alam.
Tradisi ini lahir dari rasa syukur mendalam masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala nikmat yang diterima sepanjang tahun, mulai dari hasil panen yang melimpah, kesehatan, keselamatan, hingga kesejahteraan yang dirasakan bersama.
Lewat kegiatan ini, warga juga memanjatkan doa agar kehidupan dusun senantiasa ayem, tenteram, gemah ripah loh jinawi aman, damai, dan makmur sentosa.
Nilai spiritual dan rasa terima kasih ini yang membuat tradisi ini terus dijaga dari generasi ke generasi.
"Sedekah bumi atau Nyadran ini menunjukkan bahwa kita selalu ingat kepada leluhur kita yang sudah meninggal mendahului kita. Inilah makna mendalam yang kami pegang teguh dalam melaksanakan Nyadran atau Bersih Desa di Dusun Codot," tambah Sutriono.
Rangkaian acara berlangsung penuh makna. Usai penyembelihan, seluruh daging kerbau dibagikan secara merata ke setiap warga untuk diolah di rumah masing-masing.
Nantinya, hasil masakan itu kembali disatukan dalam acara tasyakuran yang digelar di rumah Kasun atau Kamituwo.
Ada satu tradisi unik yang paling ditunggu, yaitu memasak dan menyantap bersama kepala kerbau pada malam hari dalam acara yang dikenal warga sebagai manggulan.
Momen makan bersama ini menjadi simbol kebersamaan, di mana perbedaan seolah hilang dan semua warga duduk sama rendah, berdiri sama tinggi menikmati hasil bersama.
Keberhasilan pelaksanaan kegiatan besar ini, menurut Kepala Dusun Codot, Trias, tidak lepas dari satu kekuatan utama yang dimiliki warga setempat: kekompakan dan semangat gotong royong yang sangat tinggi.
Mulai dari persiapan, pelaksanaan, hingga pembersihan kembali lingkungan, semuanya dikerjakan bersama-sama dengan sukarela dan penuh keikhlasan.
"Suksesnya kegiatan ini tak lain adalah atas dasar kekompakan serta rasa gotong royong yang tinggi dari seluruh warga masyarakat Dusun Codot. Semangat inilah yang membuat tradisi ini tetap lestari dan berjalan lancar hingga hari ini," tutur Trias.
Di penghujung acara, kemeriahan semakin memuncak dengan digelarnya seni Langen Bekso atau Tayuban. Irama musik tradisional menggema, penari bergerak luwes mengikuti alunan nada, dan warga pun ikut bergembira.
Di tengah riuh rendah sukacita itu, tersimpan pesan luhur, bahwa budaya adalah jati diri, dan Bersih Desa adalah wujud nyata cinta warga pada kampung halaman, rasa syukur pada Sang Pencipta, serta penghormatan abadi pada jejak langkah para leluhur.
Editor : SRTVRedaksi