Waspada Angin Kencang,  Prakirawan BMKG : Nganjuk Mulai Masuk Musim Kemarau

Suasana berangin kencang yang mulai melanda wilayah Nganjuk, menjadi tanda awal dimulainya musim kemarau (Jamal SRTV)
Suasana berangin kencang yang mulai melanda wilayah Nganjuk, menjadi tanda awal dimulainya musim kemarau (Jamal SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Kabupaten Nganjuk yang dikenal dengan julukan 'Kota Angin' belakangan ini kembali menunjukkan ciri khasnya. Tiupan angin terasa jauh lebih kencang dan lebih tajam dibandingkan hari-hari biasa. Fenomena alam ini ternyata bukan kejadian biasa, melainkan sinyal alam yang menandakan bahwa wilayah ini resmi mulai memasuki gerbang musim kemarau. Hal itu disampaikan oleh Prakirawan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Nganjuk, Setiyaris.

“Kita memprediksi angin kencang wilayah selatan karena berhadapan dengan Samudra Hindia, dimana angin itu berasal dari benua Australia melewati Samudra Hindia,” ujar Setiyaris saat menjelaskan penyebab fenomena ini. Jumat (8/5/2026)

Menurutnya, pola angin ini sebenarnya sudah terdeteksi sejak beberapa waktu lalu, khususnya di wilayah selatan Pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan samudra luas. 

Namun kini, hembusannya mulai terasa merata hingga ke wilayah Nganjuk. Hal ini terjadi karena adanya serangkaian pergerakan massa udara besar yang melintasi belahan bumi selatan dan bergerak ke arah utara, membawa udara kering dan berkecepatan tinggi.

“Selain menguatnya monsun Australia, juga didukung adanya pola siklonik di Selat Karimata, kemudian adanya tekanan rendah yang ada di baratnya Pulau Sumatera. Ini sedikit banyak ikut menarik masa angin yang berasal dari Australia sehingga menyebabkan peningkatan kecepatan angin,” jelasnya menambahkan faktor pendorong lainnya.

Secara ilmiah, gerakan angin ini sangat logis dan mengikuti hukum alam. Angin selalu bergerak dari wilayah bertekanan tinggi menuju wilayah bertekanan rendah. 

"Saat ini, Benua Australia sedang mengalami masa peralihan dari musim gugur ke musim dingin, sehingga suhu di sana menjadi lebih rendah dan membentuk tekanan udara yang tinggi." Ungkapnya 

Sementara itu, posisi matahari saat ini berada di sebelah Utara Khatulistiwa, membuat wilayah Indonesia mendapatkan sinar matahari lebih banyak, suhu lebih tinggi, dan tekanan udara menjadi lebih rendah. 

"Perbedaan tekanan inilah yang menjadi pendorong utama angin bertiup kencang dari arah selatan." Tuturnya sembari mengatakan di musim kemarau itu juga identik dengan suhu yang relatif panas dibandingkan hari-hari sebelumnya terutama di siang hari, kemudian terasa lebih dingin di saat pagi menjelang dini hari.

Data yang tercatat menunjukkan, saat ini kecepatan angin sudah berkisar antara 23 hingga 30 knot atau setara 50–55 km/jam. 

Namun warga diminta bersiap, karena kondisi ini baru permulaan. Menjelang puncak musim kemarau pada bulan Juni, Juli, hingga Agustus nanti, kecepatan angin diprediksi bisa melonjak drastis hingga di atas 50 knot. 

Di jalan raya, terutama jalur dataran rendah seperti rute Nganjuk–Baron, kecepatan ini bisa terasa seperti 60–80 km/jam bagi pengendara sepeda motor.

Selain angin yang kencang, karakteristik cuaca lain yang mulai terasa adalah perbedaan suhu yang cukup ekstrem dalam satu hari. Siang hari akan terasa sangat panas karena sinar matahari menyinari langsung tanpa banyak halangan awan. 

Sebaliknya, menjelang dini hari dan pagi buta, suhu udara akan turun drastis dan terasa sangat dingin. Hal ini disebabkan karena tidak ada awan yang menahan panas bumi, sehingga energi panas yang terserap siang hari terlepas bebas kembali ke angkasa.

Kini, warga Nganjuk mulai beradaptasi kembali dengan wajah alamnya: angin kencang, siang terik, dan pagi yang sejuk, sebagai tanda pasti bahwa musim kemarau telah resmi tiba.

Editor : SRTVRedaksi