Antara Kopi dan Sapi, Fleksibilitas Arnov, Peternak Milenial yang Bergaya Trendi dan Berdompet Tebal 

Arnov Indar Ramadan peternak muda milenial asal Nganjuk di kandang sapi milik keluarganya di Desa Sukorejo Loceret Nganjuk (Jamal SRTV)
Arnov Indar Ramadan peternak muda milenial asal Nganjuk di kandang sapi milik keluarganya di Desa Sukorejo Loceret Nganjuk (Jamal SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Di tengah gempuran tren profesi modern, Arnov Indar Ramadan memilih jalan yang berbeda. Pemuda berusia 23 tahun ini membuktikan bahwa menjadi peternak sapi bukan lagi pekerjaan yang identik dengan usia tua atau cara-cara konvensional. 

Sebagai putra kedua dari Mursyid, pemilik peternakan Sapi Baru Nganjuk, Arnov kini menjadi wajah baru peternak milenial yang memadukan hobi dengan kemajuan teknologi.

Langkah Arnov terjun ke dunia peternakan bermula sejak usia 17 tahun. Meski tidak menempuh pendidikan formal di bidang peternakan, ia belajar langsung dari sang ayah mengenai seluk-beluk merawat hewan ternak. Baginya, melihat sapi tumbuh sehat adalah sebuah kegembiraan tersendiri.

"Yang pertama itu hobi. Saya senang melihat sapi. Yang kedua, ya tentu menguntungkan," ujar Arnov saat ditemui di sela kegiatannya merawat sapi untuk persediaan hewan kurban di kandang sapi keluarganya Desa Sukorejo Loceret Nganjuk, Sabtu (2/5/2026)

Meski sempat dipandang sebelah mata oleh beberapa rekan sebayanya karena memilih bergelut di kandang, Arnov tetap santai. Ia mengaku profesi ini justru memberinya fleksibilitas waktu. "Waktu ngopi dan kumpul teman tetap normal karena waktunya fleksibel," tambahnya.

Digitalisasi Kandang, Dari TikTok hingga YouTube

Kehadiran Arnov membawa perubahan signifikan bagi usaha keluarganya. Mursyid mengakui bahwa dirinya justru banyak belajar dari sang anak mengenai cara pemasaran di era digital. 

Kini, pemasaran sapi kurban di Nganjuk tidak lagi hanya menunggu pembeli datang ke kandang, melainkan merambah ke media sosial.

"Sekarang ini kan zamannya teknologi semua. Pemasaran bisa lewat online, TikTok, hingga YouTube. Saya belajar dari dia," ungkap Pak Mursyid bangga. 

Kolaborasi antargenerasi ini membuat Sapi Baru Nganjuk tetap relevan dan mampu menjangkau pasar yang lebih luas.

Tantangan terbesar bagi peternak saat ini adalah wabah penyakit seperti PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) dan LSD (Lumpy Skin Disease). Arnov dan Mursyid ayahnya menerapkan standar perawatan yang ketat untuk memastikan hewan kurban mereka layak konsumsi. 

Mursyid menjelaskan bahwa jika ada hewan yang menunjukkan gejala sakit, mereka akan melakukan perawatan intensif selama satu minggu. 

"Kalau dirawat bagus, kita lanjut. Tapi kalau memburuk, kita ambil tindakan jagal agar kerugian tidak bertambah banyak," jelasnya. 

Berkat arahan pemerintah dan program vaksinasi rutin, ketersediaan hewan kurban di Jawa Timur, khususnya di Nganjuk, dipastikan aman dan berlimpah.

Menjelang Idul adha Stok Berlimpah

Menjelang Idul adha 2026, stok sapi di Jawa Timur tercatat sangat mencukupi, bahkan surplus untuk dikirim ke provinsi lain seperti Kalimantan dan Jawa Tengah. 

Dengan ketersediaan sapi mencapai lebih dari satu juta ekor di tingkat provinsi, peternak muda seperti Arnov siap memastikan kebutuhan masyarakat akan hewan kurban yang sehat dan berkualitas dapat terpenuhi dengan baik.

Kisah Arnov adalah bukti bahwa dengan sentuhan inovasi dan semangat muda, sektor peternakan tradisional bisa bertransformasi menjadi bisnis modern yang menjanjikan.

Editor : SRTVRedaksi