Longsor Kedungdowo Mengancam Rumah Warga, Kang Marhaen Gandeng Ahli ITS dan Minta Bantuan Pusat 

Cek Lokasi : Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, langsung turun tangan meninjau Jalan Kedungdowo yang longsor ke Sungai, amblas sepanjang 50 meter.
Cek Lokasi : Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, langsung turun tangan meninjau Jalan Kedungdowo yang longsor ke Sungai, amblas sepanjang 50 meter.

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Kondisi memprihatinkan terjadi di Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk, di mana jalan aspal mengalami ambles dan longsor di tepi Sungai Widas. Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, langsung turun tangan meninjau lokasi tersebut pada Jumat sore (10/4/2026) untuk melihat langsung perkembangan kerusakan yang terus meluas dan kini mulai mengancam keselamatan warga serta rumah hunian mereka. 

“Ini kemungkinan tanah gerak. Kalau hanya diuruk atau dipasang bronjong saja tidak cukup, harus ada kaji tanah dari sisi keilmuan agar penanganannya tepat,” ujar Bupati Nganjuk, Marhaen Djumadi, di lokasi. 

Didampingi Kepala Pelaksana BPBD Sutomo dan pejabat terkait lainnya, Kang Marhaen sapaan akrab bupati menjelaskan bahwa pergerakan tanah masih terus terjadi sejak pertama kali dilaporkan pada 4 April lalu, dan kondisinya semakin memburuk setiap kali turun hujan. Upaya penanganan sementara yang telah dilakukan, seperti pengurukan material hingga 125 rit, ternyata tidak bertahan lama lantaran struktur tanah yang dinilai labil.

"Rencana ahli dari ITS (Institute Teknologi Sepuluh November) ya," ungkap Kang Marhaen. 

Untuk mendapatkan solusi yang tepat dan permanen, Pemerintah Kabupaten Nganjuk berencana menggandeng tenaga ahli untuk melakukan kajian teknis mendalam. 

Selain itu, pihaknya juga akan mengajukan permohonan bantuan ke tingkat pusat agar penanganan bisa dilakukan secara komprehensif. 

“Kalau hanya penanganan biasa tidak ada artinya. Kita butuh solusi yang tepat, sekaligus menghitung kebutuhan anggaran dan metode teknisnya,” tegasnya. 

Kang Marhaen berharap penanganan serius ini bisa segera direalisasikan dalam tahun berjalan dengan memanfaatkan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) mengingat statusnya sebagai bencana alam. Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada.

"Warga saya imbau agar meningkatkan kewaspadaan. Aktivitas di sekitar lokasi longsor dibatasi, terutama bagi anak-anak, karena kondisi tanah masih berpotensi bergerak," pesannya. 

Saat ini, panjang jalan yang ambles dan longsor mencapai sekitar 50 meter. Jarak bibir longsoran bahkan sudah sangat dekat dengan permukiman warga, hanya tersisa sekitar satu meter dari teras rumah. Hal ini membuat sedikitnya sembilan rumah yang dihuni 30 jiwa berada dalam zona bahaya, sementara jalan tersebut merupakan akses vital penghubung antar desa.

Editor : SRTVRedaksi