Berkat KUR BRI, Kerupuk Samiler Luliza Jombang Sukses Tembus Pasar Jatim

Titik Martianah, pemilik usaha kerupuk samiler Luliza saat menunjukkan hasil usahanya di Desa Kayangan, Diwek, Kabupaten Jombang
Titik Martianah, pemilik usaha kerupuk samiler Luliza saat menunjukkan hasil usahanya di Desa Kayangan, Diwek, Kabupaten Jombang

JOMBANG, SRTV.CO.ID - Usaha kerupuk samiler "Luliza" yang dirintis oleh Titik Martianah (55) warga Desa Kayangan, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, sejak tahun 2011 menunjukkan perkembangan yang sangat pesat.

Berawal dari produksi sederhana bermodal nekat sebesar 10 kilogram singkong per hari, kini usahanya mampu mengolah hingga 200 kilogram singkong setiap harinya dan memasarkan produk tradisional tersebut ke berbagai daerah di Jawa Timur.

"Proses pembuatannya dimulai dari mengupas, mencuci, menggiling singkong, membumbui, mengukus, membentuk, hingga menjemur sebelum siap dipasarkan. Jadi ada dua varian yang diproduksi, yakni original dan pedas," ungkap Titik saat diwawancarai di kediamannya. Jumat (30/10/2026)

Guna mendongkrak kapasitas produksi, Titik mulai mencari solusi permodalan ke lembaga keuangan dan memilih mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di BRI Unit Kecamatan Diwek pada tahun 2018 sebesar Rp 25 juta yang dialokasikan untuk membeli mesin penggiling serta peralatan penunjang lainnya.

"Awalnya produksi saya masih sedikit, sekitar 10 kilogram singkong sehari. Setelah mendapatkan pinjaman dari BRI, uangnya saya gunakan untuk membeli mesin giling dan peralatan produksi. Alhamdulillah, produksi bisa meningkat menjadi 50 sampai 60 kilogram sehari," terangnya.

Berkat kedisiplinan dan perkembangan usaha yang menjanjikan, pinjaman pertama tersebut berhasil dilunasi dalam kurun waktu sekitar satu tahun, sementara jumlah tenaga kerja yang terserap pun melonjak hingga mencapai 25 orang.

"Alhamdulillah dana itu akhirnya untuk membangun gedung produksi di belakang rumahnya," imbuhnya.

Lonjakan kapasitas produksi hingga 200 kilogram per hari membuat jangkauan pasar kerupuk samiler Luliza semakin luas meliputi Blitar, Sidoarjo, Tuban, Pasuruan, hingga Surabaya dengan harga jual varian original Rp 35 ribu per kilogram dan varian pedas Rp 38 ribu per kilogram.

"Selama ini saya membeli singkong dari tengkulak dengan harga sekitar Rpv3.200 per kilogram. Kalau bisa membeli langsung dari petani, harganya sekitar Rp 2.500 per kilogram. Karena itu, saya membutuhkan mobil pikap agar lebih mudah mengambil singkong langsung dari petani," paparnya.

Perjalanan bisnis Titik Martianah menjadi bukti nyata bahwa usaha mikro berbasis potensi lokal mampu naik kelas dan mandiri secara berkelanjutan melalui ketekunan serta dukungan finansial yang tepat dari perbankan.

Editor : SRTVRedaksi