Solusi Limbah Tahu Mayangan Jombang, IPAL Komunal CSR Pertamina Rp 7,5 Miliar Siap Dibangun

Alat berat DLH Jombang dikerahkan untuk mengeruk tumpukan sampah bercampur endapan limbah di aliran Sungai Sekunder Rejoagung 2, Desa Mayangan, Jogoroto, Jombang (Ist/SRTV)
Alat berat DLH Jombang dikerahkan untuk mengeruk tumpukan sampah bercampur endapan limbah di aliran Sungai Sekunder Rejoagung 2, Desa Mayangan, Jogoroto, Jombang (Ist/SRTV)

JOMBANG, SRTV.CO.ID -Pencemaran limbah industri tahu di Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang yang bertahun-tahun mengganggu warga akhirnya menemukan titik terang.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jombang memastikan pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) komunal siap direalisasikan tahun ini dengan memanfaatkan dana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dari Pertamina.

"Insyaallah IPAL komunal siap dibangun tahun ini. Pembangunannya didukung dana CSR dari Pertamina," ucap Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Ruang Terbuka Hijau DLH Jombang, Menis Agus Muttaqin. Sabtu (26/9/2026)

Rencana pengadaan fasilitas pemroses limbah tersebut sebenarnya sudah disiapkan sejak tahun lalu. Kesiapan pembangunan ini menguat setelah persoalan ketersediaan lahan berhasil diselesaikan melalui skema swadaya oleh para pengusaha tahu setempat yang tergabung dalam paguyuban.

"Lahannya sudah clear. Paguyuban melakukan urunan untuk membeli lahan dari warga," terangnya.

Pasca pembangunan fisik rampung, operasional IPAL komunal tidak akan membebankan anggaran pemerintah daerah secara penuh.

Pihak paguyuban pengusaha tahu telah membentuk wadah berupa koperasi yang nantinya memegang kendali penuh atas tata kelola dan keberlanjutan operasional fasilitas tersebut.

"Untuk biaya operasional IPAL selanjutnya akan menjadi tanggung jawab paguyuban. Paguyuban juga sudah membentuk koperasi untuk mengelola operasionalnya," ungkap Menis.

DLH Jombang menempatkan posisinya sebagai pendamping teknis, mulai dari pembinaan hingga pemilihan teknologi pengolahan limbah yang efisien.

Pemilihan teknologi yang tepat menjadi kunci agar biaya operasional rutin dapat dijangkau oleh kemampuan finansial koperasi paguyuban.

"DLH sebagai pendamping. Kita mendampingi, membina dan mengarahkan. Ini bukan persoalan yang baru, sudah cukup lama kita upayakan penyelesaiannya, termasuk dalam pemilihan teknologi," jelasnya.

Penanganan persoalan ini terbilang mendesak mengingat dampak pencemaran di lapangan sudah memicu keluhan serius dari masyarakat sekitar.

Di sepanjang Sungai Sekunder Rejoagung 2 Dusun Murong Santren, endapan kecokelatan serta cairan putih yang diduga limbah produksi tahu memicu bau menusuk, terutama saat debit air menyusut di musim kemarau.

"Yang jadi keluhan itu limbah tahu, kotoran hewan, dan sampah-sampah. Kalau kemarau, parah. Baunya sangat menyengat sampai bikin dada sesak dan panas," papar warga Dusun Murong Santren, Umar Mahmud.

Keberadaan IPAL komunal ini diharapkan dapat memutus rantai pencemaran lingkungan, mengembalikan fungsi ekosistem sungai, serta menciptakan keharmonisan antara aktivitas industri kecil masyarakat dan kenyamanan hidup warga pemukiman.

Editor : SRTVRedaksi