Terbang Tinggi dari Pesantren, Shanum Santri Tebuireng Sabet Juara 1 Kejurda Paralayang Jatim

Shanum Anjanique (13), santri SMP Sains Tebuireng Jombang, berdiri di podium juara 1 Danlanud Abdulrachman Saleh Open/Kejurda Paralayang Jawa Timur 2026 di Gunung Banyak, Kota Batu. (Saha/SRTV)
Shanum Anjanique (13), santri SMP Sains Tebuireng Jombang, berdiri di podium juara 1 Danlanud Abdulrachman Saleh Open/Kejurda Paralayang Jawa Timur 2026 di Gunung Banyak, Kota Batu. (Saha/SRTV)

JOMBANG, SRTV.CO.ID -Keringat dan perjuangan Shanum Anjanique (13) akhirnya membuah hasil manis. Santri SMP Sains Tebuireng Jombang ini berhasil menduduki podium tertinggi dalam kejuaraan Danlanud Abdulrachman Saleh Open/Kejurda Paralayang Jawa Timur 2026 yang berlangsung di Gunung Banyak, Kota Batu, pada 18–20 September 2026.

"Momen penghargaan Juara 1 ini ada perjalanan panjang ikut Paralayang. Perjalanan yang bermula dari Lapangan AURI Pacitan, ketika saya masih duduk di kelas IV sekolah dasar," ungkap Shanum melalui ayahandanya, Hadi DC kepada awak media, Rabu (23/9/2026).

Setelah tekun mengasah kemampuan selama tiga tahun sejak bangku SD, Shanum sukses menundukkan puluhan pesaingnya di nomor ketepatan mendarat. Ia mengungguli Feby Erwanti asal Jombang di posisi kedua dan Wahyu Inggar Sasi Pratama dari Mojokerto di posisi ketiga.

"Alhamdulillah anak saya meraih juara pertama dalam Kejurda tersebut," imbau Hadi, mengekspresikan rasa syukurnya atas pencapaian sang putri.

Kemenangan ini menjadi ajang pembuktian dan perbaikan performa bagi Shanum. Pada ajang Liga Paralayang Jawa Timur Seri I 2026 di lokasi yang sama pada Juli lalu, ia harus puas berada di posisi kedua. Hanya berjarak dua bulan, Shanum berhasil mengevaluasi penampilannya hingga menaiki podium teratas.

"Ada dukungan banyak pihak di belakangnya. Salah satunya datang dari Pesantren Sains Tebuireng Jombang yang memberikan izin kepada Shanum untuk meninggalkan rutinitas pesantren sementara waktu demi mengikuti kejuaraan," terangnya.

Meski persiapan menghadapi kompetisi terbilang singkat akibat padatnya rutinitas pendidikan berbasis pesantren, keluwesan pihak pengelola sekolah dalam memberi ruang bakat sangat membantu langkahnya.

Bagi Hadi, restu serta kelonggaran dari Pesantren Sains Tebuireng menjadi kunci Shanum bisa menyeimbangkan dua perannya sekaligus.

"Shanum mulai belajar ground handling paralayang di Lapangan AURI Pacitan sejak kelas 4 SD Alam," jelas Hari menceritakan awal mula ketertarikan putrinya.

Perjalanan tersebut berlanjut saat Shanum lolos seleksi atlet FASI Paralayang Pacitan sewaktu duduk di kelas VI SD Alam Pacitan. Pengalaman berlatih di Lapangan AURI Pacitan kini berbuah manis dan membawanya menaklukkan langit Gunung Banyak.

"Dari Tebuireng, anak saya belajar menjalani kehidupan sebagai santri. Dan dari langit Gunung Banyak, Shanum belajar bahwa sebuah mimpi bisa dikejar sambil tetap menapaki kewajiban di bumi," tambahnya

Editor : SRTVRedaksi