Kertosono Mencekam, Ledakan Bom dan Hujan Peluru Pecah di Jembatan Lama, Pejuang Nganjuk Pukul Mundur Kompeni

Anggota KOSTI Nganjuk bersama KOTASEJUK memperagakan drama teatrikal pertempuran melawan pasukan Belanda di Jembatan Lama Kertosono, Nganjuk (SRTV)
Anggota KOSTI Nganjuk bersama KOTASEJUK memperagakan drama teatrikal pertempuran melawan pasukan Belanda di Jembatan Lama Kertosono, Nganjuk (SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID — Bunyi tembakan dan ledakan bom menggelegar di kawasan Kertosono, Nganjuk. TNI bersama rakyat bersatu mengangkat senjata menghadang tentara kompeni bersenjata lengkap. 

Suasana mencekam tersebut merupakan bagian dari teatrikal perjuangan yang digelar oleh Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Nganjuk bekerja sama dengan Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (KOTASEJUK) di Jembatan Lama Kertosono, Kabupaten Nganjuk, pada Senin (17/8/2026)

"Kegiatan ini menggambarkan suasana perang sesungguhnya merebut kemerdekaan dari tangan penjajah," ujar Sukadi Humasi Kota Sejuk Nganjuk. Selasa (18/8/2026)

Pementasan ini digelar secara khusus dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 sekaligus mengenang perlawanan sengit pejuang Bumi Anjuk Kadang di masa revolusi fisik.

Sejumlah pemeran memperagakan adegan pertempuran masa lalu dengan ciamik. Dimulai dari kedatangan pasukan Belanda yang bermaksud menguasai wilayah strategis, perlawanan gigih para pejuang, hingga berbagai taktik tak terduga untuk menghambat pergerakan pasukan penjajah. .

Jembatan Lama Kertosono sendiri dipilih karena memiliki nilai sejarah kelam dan heroik dalam mempertahankan kemerdekaan, di mana kawasan ini dahulunya merupakan jalur vital pergerakan pasukan dan distribusi logistik.

"Para pejuang berupaya menghambat mobilitas pasukan Belanda dengan berbagai taktik gerilya. Salah satunya melalui upaya melumpuhkan jembatan menggunakan bahan peledak, meski upaya tersebut tidak berhasil meruntuhkan konstruksi jembatan," urai Sukadi 

Pertempuran dan taktik gerilya tidak hanya berpusat di jembatan, melainkan meluas di sepanjang jalur Kertosono – Baron. Di jalur tersebut, ranjau-ranjau dipasang untuk menghambat kendaraan militer Belanda. 

Bahkan dalam sebuah penyergapan unik, para pejuang memanfaatkan sarang tawon untuk menyerang dan membuat pasukan Belanda panik hingga kehilangan konsentrasi di medan tempur.

"Teatrikal ini tidak hanya menjadi hiburan dalam peringatan HUT Kemerdekaan, namun juga menjadi media edukasi sejarah bagi masyarakat. Melalui pementasan tersebut, nilai-nilai perjuangan dan sejarah perlawanan di Kertosono diharapkan tetap diingat dan dikenal oleh generasi muda," tutur Endika dari Komunitas Sepeda Tua Indonesia (KOSTI) Nganjuk

Editor : SRTVRedaksi