73 Tahun BI: Uangnya Ada, Kepercayaannya Belum

BI tahu bedanya masalah likuiditas dan masalah kredibilitas
BI tahu bedanya masalah likuiditas dan masalah kredibilitas

Oleh Harry Baskoro

Hari ini, 1 Juli, Bank Indonesia (BI) berulang tahun ke-73. Biasanya ulang tahun ada kue. Kali ini kuenya datang bareng tagihan meja sebelah.

Panda Bond sedang disiapkan. LCT dijual sebagai jalan mengurangi ketergantungan pada dolar. Danantara makin sering masuk ke cerita pembiayaan negara. Menunya beda-beda. Pertanyaannya sama.

Duitnya mau dari mana?

Mencari sumber dana baru tentu sah saja. Panda Bond bisa membuka pintu ke investor baru. LCT bisa mengurangi transaksi yang harus muter dulu lewat dolar. Modal domestik memang seharusnya ikut memikul pembangunan. Tapi alat pembiayaan bukan barang yang sama dengan kepercayaan.

Di sinilah ulang tahun BI jadi terasa lebih dari sekadar tanggal seremonial.

Selama 73 tahun, BI diminta menjaga nilai uang. Kadang lewat suku bunga. Kadang lewat likuiditas. Kadang lewat intervensi. Kadang lewat sistem pembayaran dan infrastruktur pasar.

BI sudah pernah melewati badai yang lebih gelap.

BI tahu bedanya masalah likuiditas dan masalah kredibilitas. Pertanyaannya, apakah dapur kebijakan yang lain juga tahu?

Karena ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan bank sentral sendirian.

BI tidak bisa menciptakan kepercayaan kalau cerita besar kebijakan ekonomi terus bikin investor garuk-garuk kepala.

BI bisa jual dolar, tapi tidak bisa jual kredibilitas semua institusi.

BI bisa naikkan suku bunga, tapi tidak bisa memberi rating pada disiplin fiskal.

BI bisa bikin jalur pembayaran, tapi tidak bisa mengubah pipa transaksi menjadi cadangan devisa.

Dan sinyalnya memang campur aduk. BI menaikkan bunga untuk menjaga rupiah. Tapi di saat yang sama, BI juga membuka keran likuiditas besar-besaran.

DGS BI Destry Damayanti menyebut ekspansi likuiditas sudah naik dari sekitar Rp600 triliun di akhir Mei menjadi Rp1.000 triliun di akhir Juni. Tujuannya jelas: menjaga pasar uang dan pasar valas agar tidak ikut pecah piring.

Ditambah lagi, M2 tumbuh 10,8% YoY pada Mei, naik dari 9,2% pada April, didorong kredit dan aset luar negeri bersih. Jadi rem jalan. Gas juga jalan. Nah, di situ masalahnya. Tidak heran rupiah masih betah di kisaran Rp17.900 per dolar.

Di warteg, ini seperti kasir menaikkan harga es teh supaya pelanggan tidak borong, tapi dari dapur tetap keluar tambahan diskon lainnya nasi, gorengan, dan kuah gratis supaya meja tidak ribut.

Tujuannya bisa dimengerti. Tapi pembeli tetap bertanya: ini warung sedang hemat, atau sedang panik? Ketika dominasi fiskal mulai terlihat seperti kepasrahan moneter, pasar biasanya sadar duluan.

Panda Bond. LCT. Patriot Bond. Danantara. Semua bisa berguna. Tapi tidak ada yang sendirian menjawab pertanyaan paling dasar: Pasar percaya tidak pada ceritanya?

Karena uang tidak cuma datang karena yield.Uang datang karena arah kebijakannya jelas.

Uang bertahan karena kredibilitas. Uang balik lagi karena institusinya bisa ditebak.

Itu sebabnya pembedaan ini penting. LCT bisa mengurangi permintaan dolar. Tapi LCT tidak menciptakan cadangan devisa. Panda Bond bisa memperluas sumber pembiayaan. Tapi Panda Bond tidak menghapus kegelisahan rating. Patriot Bond mungkin bisa membawa uang pulang. Tapi tanpa pagar yang jelas, ia juga bisa membuat kepercayaan ikut keluar. Danantara bisa menggerakkan modal. Tapi kewajiban yang buram bukan berarti tidak terlihat.

Pasar tidak cuma membaca angka. Pasar membaca perilaku, komunikasi, desain hukum. Dan apakah pemerintah sedang menyelesaikan masalah, atau cuma memindahkannya ke ruangan sebelah.

Jadi di ulang tahun BI yang ke-73, mungkin hadiah terbaik bukan instrumen baru. Hadiah terbaik adalah kebijakan yang nyambung satu sama lain.

Karena rupiah tidak hanya dijaga di dealing room. Rupiah juga dijaga di APBN, di penyusunan aturan, di transparansi. Dan di keyakinan investor bahwa pembuat kebijakan paham beda antara likuiditas dan kredibilitas.

Uangnya mungkin ada.

Tapi kepercayaan beda urusan. Kepercayaan tidak otomatis pulang hanya karena uang pulang. Kepercayaan pulang kalau kebijakan memberinya alasan untuk tinggal.

Penulis adalah analisis ekonomi (The Warteg Economist)

Editor : SRTVRedaksi