NGANJUK, SRTV.CO.ID — Riuh rendah suara gamelan bertalu-talu, memecah kesunyian hutan di lereng Gunung Pandan. Ratusan warga tampak menyemut, memadati jalanan tanah yang berdebu.
Meski letaknya terpencil dan dikepung rimbunnya hutan, Desa Bendoasri, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, mendadak lumpuh oleh sukacita. Hari itu, tradisi leluhur Bersih Desa atau Nyadran kembali digelar dengan penuh magis.
Ada yang unik dan berbeda dalam ritual kali ini. Serba angka tujuh. Sebanyak tujuh gadis berparas jelita, dirias anggun bak putri kerajaan, berjalan anggun mengusung tujuh wadah air.
Air tersebut bukan sembarang air, melainkan diambil langsung dari tujuh mata air keramat (sendang) yang menghidupi desa setempat.
Di belakang mereka, barisan pemuda mengiringi sambil memikul tujuh tumpeng hasil bumi serta tumpeng kambing yang menggunung.
"Acara Bersih Desa ini merupakan acara sakral yang kami gelar setiap tahun. Meski desa kami terletak di tengah hutan, namun kondisi itu tidak menyurutkan antusias warga untuk tetap melestarikan budaya dari tradisi nenek moyang," ungkap Kepala Desa Bendoasri, Dudung Kuswanto. Sabtu (20/6/2026)
Prosesi sakral ini melibatkan sedikitnya 565 warga lereng Gunung Pandan. Langkah kaki mereka serempak, memulai arak-arakan dari depan balai desa menuju rumah kepala desa.
Suasana kerajaan masa lampau begitu kental terasa ketika sejumlah pria dengan pakaian adat keraton lengkap, berbaris mengawal jalannya ritual sambil menyengkelit keris dan memegang tombak pusaka desa.
Sesampainya di pelataran rumah kepala desa, suasana mendadak hening. Tujuh air dari sumber mata air yang dibawa para gadis tadi kemudian dituangkan dengan khidmat ke dalam sebuah kendi tanah liat.
Air suci ini nantinya akan disemayamkan secara khusus, untuk kemudian dituangkan kembali pada prosesi serupa di tahun berikutnya.
"Tradisi yang berlangsung secara turun-temurun ini merupakan upaya kami dalam melestarikan budaya Jawa. Tujuannya sangat mendalam, agar manusia selalu bersyukur atas karunia berupa air dan hasil bumi yang menjadi sumber kehidupan masyarakat setempat," tambah Dudung Kuswanto di sela-sela acara.
Bagi warga Bendoasri, Nyadran bukan sekadar pesta formalitas. Ritual ini merupakan simbol kebersamaan, ruang spiritual untuk memohon keselamatan, sekaligus ungkapan terima kasih yang mendalam kepada Sang Pencipta. Berkat air dan tanah yang subur, kehidupan mereka di tengah hutan tetap tercukupi.
Kemeriahan ini pun tidak mereda dalam sekejap. Sebagai wujud syukur yang paripurna, rangkaian kegiatan bersih desa ini dipastikan akan terus bergulir selama tujuh hari berturut-turut dengan berbagai hiburan rakyat dan ritual adat lainnya.
Tradisi ini menjadi bukti nyata bahwa sekeping sejarah dan keluhuran budaya Jawa, tetap terjaga rapi dan lestari di tangan masyarakat Bendoasri, sang penjaga hutan Gunung Pandan.
Editor : SRTVRedaksi