Mengetuk Pintu Langit di Bumi Ronggolawe, Melacak Jejak Spiritual Sang Mahaguru Walisongo

Gapura utama pintu masuk kompleks Masjid dan Makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi, Dusun Rembes, Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Tuban. (SRTV)
Gapura utama pintu masuk kompleks Masjid dan Makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi, Dusun Rembes, Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang, Tuban. (SRTV)

TUBAN, SRTV.CO.ID - Deru angin laut Pantai Utara (Pantura) Tuban membawa aroma garam yang khas, menyusup di antara sela-sela pepohonan di Dusun Rembes, Desa Gesikharjo, Kecamatan Palang. Tuban.

Di bumi Ronggolawe inilah, sebuah kompleks arsitektur bernuansa Islami berdiri kokoh, menjadi muara bagi ribuan pencari ketenangan batin setiap harinya. 

Mereka datang bukan sekadar untuk singgah, melainkan menziarahi makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi sang ulama besar asal Samarkand, Asia Tengah, yang menjadi jangkar utama sejarah dakwah Islam di tanah Jawa.

"Tujuan utama ziarah makam wali tentunya untuk mengingat kematian, mendoakan ahli kubur, meneladani perjuangan para ulama, serta bertawasul agar hajat dikabulkan dan mendapatkan keberkahan," tutur Muza, salah satu peziarah asal Nganjuk, Rabu (10/6/2026)

Bagi masyarakat maupun peziarah luar kota, makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi bukan sekadar destinasi wisata religi biasa. Jejak langkahnya merupakan fondasi dari rahim sejarah.

Nama "Asmoroqondi" sendiri merupakan perubahan lafal lidah masyarakat Jawa dari tempat asalnya, As-Samarqandy (Uzbekistan). 

Sebelum menginjakkan kaki di bumi Majapahit pada paruh kedua abad ke-14, ulama besar ini sempat membina keluarga dan menanam benih dakwah di Kerajaan Champa. 

Garis silsilahnya yang kuat menjadi legitimasi emas bagi pergerakan Walisongo. Melalui putranya, Sunan Ampel, serta cucunya, Sunan Bonang dan Sunan Drajat, cetak biru syiar Islam yang ramah budaya bermula di Jawa Timur.

Menurut perempuan yang pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al Karimi Tebuwung, Gresik ini, momen spiritual di makam wali secara lebih terperinci menjadi sarana melembutkan hati. 

"Mengingat kematian (zikrul maut) menyadarkan kita bahwa dunia ini sementara. Selain itu, berdoa dengan perantara kemuliaan para wali dilakukan karena kita merasa ibadah diri sendiri masih jauh dari sempurna," tambah Muza menuturkan hikmah bertawasul.

Lantunan selawat dan tahlil yang menggema dari dalam masjid bersejarah seakan tidak pernah putus, menciptakan atmosfer magis yang menggetarkan dada. 

Kompleks makam ini memang didesain untuk kenyamanan para pencari berkah, mulai dari fasilitas parkir bus yang luas dan masjid yang estetik.

"Menghormati dan meneladani jasa ulama lewat tradisi ziarah seperti ini adalah bentuk penghormatan atas perjuangan para wali yang telah menyebarkan ajaran Islam di Nusantara," pungkas Muza sebelum kembali membaur di antara riuhnya jemaah yang bersiap melakukan doa bersama.

Seiring matahari yang perlahan tenggelam di cakrawala utara Tuban, kompleks Gesikharjo tetap benderang oleh cahaya lampu dan asa para peziarah. 

Di tepi jalur Pantura yang sibuk, makam Syekh Ibrahim Asmoroqondi terus berdiri sebagai pengingat abadi, bahwa sebuah peradaban besar Islam di Nusantara, bermula dari keteguhan hati seorang musafir seberang lautan.

Editor : SRTVRedaksi