NGANJUK, SRTV.CO.ID - Hari ini, 1 Juni 2026, kita kembali memperingati Hari Lahir Pancasila di tengah dinamika zaman yang kian kompleks.
Jika di masa lalu kita kerap menggaungkan Pancasila sebagai jangkar pemersatu dari Sabang sampai Merauke, maka hari ini di tahun 2026 redaksi SRTV.CO.ID mengajak kita semua untuk melihat melampaui batas-batas teritorial tersebut.
Pancasila tidak lagi sekadar menjadi formula domestik untuk merawat keberagaman kita. Lebih dari itu, lima sila yang diwariskan para pendiri bangsa adalah lanskap etis dan fondasi moral yang sangat mendesak untuk ditawarkan kepada dunia yang sedang tercabik-cabik oleh konflik geopolitik, krisis kemanusiaan, dan ego sektoral antar negara
Bung Karno, dalam pidato legendarisnya pada 1 Juni 1945, sudah mengingatkan bahwa Nasionalisme (Kebangsaan) tidak bisa tegak tanpa Internasionalisme (Peri Kemanusiaan). Keduanya adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama.
Ketika dunia hari ini terjebak dalam polarisasi ekstrem dan hukum rimba geopolitik, Sila Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, menjadi kompas moral yang universal.
Pancasila menegaskan bahwa perdamaian abadi tidak akan pernah tercapai selama standar ganda kemanusiaan masih dipraktikkan, dan selama hak hidup sebuah bangsa ditindas oleh kekuatan kolektif yang lebih besar.
Melalui spirit Sila Keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan Indonesia memiliki mandat moral untuk terus mengampanyekan pentingnya dialog multilateral yang setara (multilateralism).
Bukan pemaksaan kehendak, melainkan musyawarah global yang menghormati kedaulatan tiap-tiap negara.
Redaksi SRTV.CO.ID memandang bahwa konflik internasional acap kali berakar dari ketimpangan ekonomi dan perebutan sumber daya yang tidak merata.
Di sinilah Sila Kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, bertransformasi menjadi visi global, Keadilan Sosial bagi Seluruh Umat Manusia.
Perdamaian dunia adalah hal yang utopis selama jurang pemisah antara negara kaya dan negara berkembang terus melebar, atau selama akses terhadap pangan, kesehatan, dan teknologi hijau dimonopoli oleh segelintir pihak.
Menjadi agen perdamaian dunia bukanlah pilihan sukarela bagi Indonesia, melainkan amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Di tahun 2026 ini, tantangan global seperti krisis iklim, ketegangan kawasan, hingga disrupsi kecerdasan buatan membutuhkan pegangan moral yang kokoh.
Pancasila adalah jawaban otentik yang kita miliki. Dengan mempraktikkan Pancasila secara konsekuen di dalam negeri, kita sedang membangun legitimasi moral yang kuat untuk berbicara dan bertindak di panggung internasional.
Mari jadikan momentum 1 Juni 2026 ini sebagai titik balik untuk menegaskan kembali posisi Indonesia, bukan sebagai penonton di tengah karamnya perdamaian dunia, melainkan sebagai arsitek yang aktif merajut harmoni global berbasiskan moralitas Pancasila. Salam Pancasila.
Editor : SRTVRedaksi