Kesederhanaan Gus Baha, Tamparan Bagi Mereka yang Lupa Diri 

Reporter : SRTVRedaksi
Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha (Sketsa SRTV)

NGANJUK, SRTV.CO.ID – Di tengah riuh rendah kehidupan bernegara yang makin gemerlap dan serba pamer, hadir satu sosok yang menjadi oase sekaligus cermin tajam bagi siapa saja yang memegang amanah kekuasaan. 

Namanya dikenal seantero nusantara, setiap kali melangkah selalu ditunggu, disambut antusiasme meluap, dan dihormati bak pemimpin besar. Ilmunya diakui luas, nasihatnya dicatat dan diamalkan jutaan orang, undangan datang berjejer dari satu ujung negeri ke ujung lain. 

Namun, Ahmad Bahauddin Nursalim, atau yang akrab disapa Gus Baha, memilih jalan yang berkebalikan dari kebiasaan banyak pemimpin dan pejabat negeri ini. Di saat jabatan kerap dijadikan tiket menuju kemewahan dan penghormatan berlebih, ia justru hidup apa adanya, sederhana, dan merendah seolah tak ada apa-apa yang ia miliki selain amanah ilmu yang diembannya.

Kesederhanaan Gus Baha bukan sekadar gaya hidup, melainkan identitas yang hidup dalam setiap helai kesehariannya. Pakaian yang dikenakannya selalu sederhana, kain polos tanpa hiasan, sering kali sudah bertahun-tahun dipakai hingga warnanya mulai memudar, persis sama dengan pakaian yang biasa dikenakan santri atau warga desa biasa. 

Tak ada kain bermerek, tak ada perhiasan, tak ada atribut yang membedakan dirinya dari orang lain. Tempat tinggalnya pun bukan bangunan megah bak istana, melainkan rumah sederhana yang cukup untuk berteduh bersama keluarga dan para santri. 

Kendaraan yang ia gunakan hanyalah alat berpindah biasa, jauh dari jenis kendaraan mewah yang kerap diperebutkan para pemegang jabatan. Makanan yang disantap adalah apa yang ada di meja, tak menuntut hidangan istimewa atau bumbu-bumbu mahal. 

Baginya, segala sesuatu di dunia ini hanya alat, bukan tujuan, dan wibawa seseorang tidak tumbuh dari apa yang dipakai, dikendarai, atau dimiliki, melainkan dari ketulusan hati dan keteguhan prinsip.

Gaya hidup ini menjadi kontras yang sangat menyakitkan jika dibandingkan dengan apa yang terjadi di lingkaran kekuasaan. Di sana, jabatan tampaknya telah berubah makna menjadi hak istimewa untuk menikmati segala kemewahan. 

Tak sedikit pejabat yang baru saja duduk di kursi kekuasaan, bahkan yang jabatannya tergolong rendah sekalipun, langsung mengubah gaya hidupnya drastis. Rumah dibangun atau direnovasi menjadi megah dan luas, bak kediaman raja-raja zaman dulu. 

Kendaraan diganti dengan tipe terbaru dan termahal, seolah gengsi jabatan diukur dari harga kendaraan yang dikendarai. Pakaian, perlengkapan, hingga pernak-pernik kecil pun harus berkelas tinggi dan bermerek internasional, agar terlihat beda dan istimewa. 

Lebih ironis lagi, mereka menjadi sangat gila penghormatan, menuntut dilayani bak tuan yang besar. Berangkat harus ada iring-iringan yang membuka jalan, masuk ruangan harus disambut tepuk tangan meriah, duduk harus didahulukan, berbicara harus dituruti, dan setiap gerak-geriknya harus diperhatikan berlebihan. 

Bagi mereka, jabatan adalah alat untuk meninggikan diri, bukan untuk merendah dan melayani rakyat. Lucu sekaligus menyedihkan melihat perbedaan ini. Sosok yang ilmu dan pengikutnya jutaan orang, yang dihormati secara sukarela karena kebesarannya hati, justru hidup seadanya dan tak pernah menuntut apa pun. 

Sementara itu, pejabat yang kekuasaannya terbatas dan sering kali hanya ada di atas kertas, berlagak seolah menjadi pusat semesta yang wajib dipuja dan dihormati. 

Mereka sibuk mengatur tampilan luar agar terlihat berwibawa, padahal lupa bahwa wibawa tak bisa dibeli dengan uang atau dipaksakan dengan kekuasaan. 

Penghormatan yang mereka tuntut sering kali hanya diperoleh karena rasa segan atau takut akan kekuasaannya, bukan karena rasa hormat tulus yang tumbuh dari hati. 

Begitu jabatan lepas, begitu kekuasaan hilang, maka lenyap pula segala penghormatan buatan itu, dan yang tersisa hanyalah kenangan tentang kemewahan yang dinikmati sendirian, bukan kenangan jasa yang dikenang rakyat.

Sering kali terdengar alasan dari para pejabat itu bahwa kemewahan yang mereka nikmati diperlukan untuk menjaga wibawa jabatan. Padahal itu alasan yang sangat tipis dan memalukan. 

Lihatlah Gus Baha, tanpa kemewahan sedikit pun, wibawanya menembus batas wilayah dan status sosial. Orang-orang dari berbagai kalangan, dari rakyat biasa hingga pejabat tinggi, datang mendekat dengan kepala tertunduk hormat, bukan karena takut, melainkan karena takjub pada ketulusan dan kesederhanaannya. 

Di sisi lain, banyak pejabat yang sudah berhias serba mewah, tapi tetap dipandang sebelah mata dan dicemooh dalam diam oleh rakyatnya, karena yang tampil hanyalah kesombongan, bukan pelayanan. 

Kemewahan yang mereka pertontonkan justru menjadi bukti bahwa mereka lupa pada hakikat jabatan, bahwa mereka adalah pelayan masyarakat, bukan tuan yang harus dilayani.

Kisah dan keseharian Gus Baha ini sesungguhnya adalah sindiran paling halus namun paling tajam bagi seluruh pemegang kekuasaan. Ia mengajarkan bahwa kebesaran sejati itu tak perlu dideklarasikan, tak perlu dipamerkan, dan tak perlu dituntut. 

Ia tumbuh sendiri dari perilaku hidup yang sederhana, jujur, dan penuh kerendahan hati. Di saat banyak pejabat sibuk membangun citra megah di mata publik, Gus Baha diam-diam membangun kebesaran di hati rakyat. 

Di saat banyak pejabat merasa kurang jika tak hidup serba mewah dan tak selalu dihormati berlebihan, Gus Baha membuktikan bahwa cukup itu indah, dan penghormatan tulus jauh lebih berharga daripada tepuk tangan yang dipaksakan.

Dunia ini hanyalah persinggahan yang sangat sebentar. Segala kemewahan yang dikumpulkan, segala penghormatan yang dituntut, tak akan bisa dibawa pergi saat waktu berakhir. 

Pejabat yang bijak akan menyadari hal ini, lalu meneladani jejak sederhana seperti Gus Baha, memegang amanah dengan hati yang rendah, hidup secukupnya, dan mencari penghormatan lewat kerja nyata dan pelayanan tulus. 

Sebab pada akhirnya, sejarah tak akan mencatat seberapa mewah rumah atau kendaraan seorang pejabat, tapi akan mencatat, apakah ia pernah menjadi cermin kebaikan, atau hanya sekadar penguasa yang sibuk menumpuk harta dan kemegahan di tengah rakyat yang masih banyak kekurangan.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru