Penuh Air Mata! Adik Kandung Pahlawan Marsinah Ungkap Kenangan Terindahnya Bersama Sang Kakak

Reporter : Mahbub Jamal
Wijiati Adik Kandung Pahlawan Marsinah menceritakan kisahnya bersama kakak di Makam Nglundo

NGANJUK, SRTV.CO.ID - Air mata tak mampu dibendung oleh adik kandung Marsinah, Wijiati saatenceritakan kenangannya bersama mendiang Marsinah.

Saat ditemui selepas tasyakuran revitalisasi patung lama pahlawan buruh Marsinah, Jumat (24/04/2026), Wijiati mengungkapkan bahwa Marsinah merupakan sosok yang sangat baik hati.

"Dia itu kakak, sosok kakak yang sangat baik, sangat sayang sama saya," ujarnya sambil sesekali menyeka air mata di pipinya.

Wijiati mengatakan, saat masih kecil, dirinya hidup terpisah dengan Marsinah.

Wijiati hidup bersama keluarga sang ayah, sementara Marsinah hidup bersama keluarga ibunda.

"Kan saya dipisah toh. Yang kakak dua itu ndek sini ikut Mbah dari Ibu, saya ikut Mbah dari Bapak. Jadi dipisah gitu," kata Wijiati.

Wijiati menceritakan, dalam suatu kondisi dirinya pernah sakit, sementara Marsinah berusaha untuk menjenguknya.

Marsinah pun mendatangi kos Wijiati, namun tak berhasil menemui sang adik yang kala itu sedang tidak berada di kosnya.

Marsinah pun mengirimkan secarik kertas untuk Wijiati, yang berisi pesan ajakan hidup bersama.

"Dulu itu pernah pas saya sakit ya, terus kakak saya itu datangi saya, terus enggak ketemu, cuma ketemu sama kos. Langsung ngasih surat dikasihkan adik adik kos saya tadi," ujar Wijiati.

"Surat itu isinya gini: saya tak paham posisi kamu, kamu lagi sakit, sedang sakit, kamu di karasemi, ikut nenek, kamu di Surabaya, kos. Lebih baik kamu ikut saya. Katanya gitu. Saya mau mohon ini di kamu harus mau. Mungkin ini kesempatan emas, kan enggak pernah kumpul sama sekali gitu loh," sambungnya.

Wijiati menuturkan, kisah tersebut menjadi bukti bahwa Marsinah merupakan sosok yang peduli dengan keluarga, bahkan orang lain.

Dengan diangkatnya Marsinah sebagai Pahlawan Nasional, Wijiati pun ikut merasa bangga.

Namun dibalik gelar yang mentereng itu, Wijiati harus menelan pil pahit lantaran hpir tak pernah dianggap oleh keluarganya.

Bahkan menurutnya, fasikitas-fasilitas yang diberikan negara kepada keluarganya pun tak pernah dinikmatimya.

Kini, Wijiati hanya hidup sebagai tukang asuh anak orang di Gresik, Jawa Timur.

Namun meski demikian, Wijiati mengaku ikhlas dengan keadaannya, dan tetap merasa bangga dengan gelar pahlawan yang diberikan kepada kakaknya.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru