JOMBANG, SRTV.CO.ID - Puluhan mahasiswa dan mahasantri dari berbagai perguruan tinggi dan pondok pesantren di Jawa Timur mengikuti kegiatan Digitalisasi Naskah Keislaman bertajuk 'Merekam Ingatan, Menjaga Pengetahuan' yang digelar Museum dan Cagar Budaya Unit Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari (MINHA) di Tebuireng, Jombang.
Kepala Museum Islam Indonesia KH Hasyim Asy’ari, Mujiburrohman, mengatakan kegiatan Jumat (4/9/2026) kemarin itu, menjadi langkah penting untuk menyelamatkan naskah-naskah peninggalan ulama yang rentan rusak akibat faktor usia.
"Sebagaimana kita ketahui, tinggalan masa lalu para ulama adalah masalah. Naskah kalau lama-lama akan rusak. Dengan digitalisasi, naskah tersebut bisa diselamatkan dan tetap dapat digunakan," ujar Mujiburrohman dalam keterangannya kepada awak media, Minggu (6/9/2026).
Ia mengungkapkan naskah keislaman tidak hanya bernilai sebagai benda bersejarah, tetapi juga menyimpan pengetahuan dan rekam jejak intelektual para ulama. Pelestarian naskah harus dilakukan terhadap fisik dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.
"Dengan menjaga naskah, kita sebenarnya sedang menjaga pengetahuan. Digitalisasi menjadi salah satu cara agar pengetahuan itu tetap bisa dipelajari dan dimanfaatkan oleh generasi sekarang maupun generasi yang akan datang," ungkap Mujiburrohman.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Moh. Minahul Asna dari Tim Lajnah Turats Masyayikh Tebuireng dan Rani Darmayanti, Pustakawan Ahli Madya sekaligus Tim Pelestarian Disperpursip Jawa Timur. Keduanya memberikan perspektif saling melengkapi, mulai dari aspek turats hingga teknis pelestarian naskah.
Disampaikan Rani Darmayanti, bahwa pelestarian manuskrip perlu dimulai dari kesadaran pemilik naskah. Menurutnya, setiap naskah memiliki informasi berharga yang dapat memberi manfaat bagi generasi mendatang.
"Betapa pentingnya menyelamatkan manuskrip dimulai dari kita, bahwa naskah yang kita punya memiliki informasi yang berharga untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu, menyelamatkan karya intelektual itu sangat penting. Selain usia naskah dan kondisi penyimpanan, tetapi juga memastikan pengetahuan yang terkandung di dalamnya tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya," terangnya.
Sementara itu, Moh. Minhatul Asna menekankan pentingnya mendokumentasikan ilmu dalam bentuk tulisan. Proses alih media ke bentuk digital, menurutnya, dapat memperluas akses terhadap pengetahuan sekaligus memperpanjang keberadaan karya intelektual.
"Tulisan yang dialihmediakan menjadi digital akan menjadikan ilmu lebih abadi," papar Asna.
Workshop tidak hanya diisi pemaparan materi, tetapi juga memberikan pengalaman praktik kepada peserta. Pada sesi akhir, peserta mendapat pendampingan langsung untuk mempraktikkan proses digitalisasi manuskrip menggunakan scanner dan kamera digital.
Salah seorang peserta, Syahru dari Universitas Negeri Malang, mengaku memperoleh pemahaman baru mengenai pengelolaan turats untuk pengembangan khazanah keilmuan Islam.
"Dari pemateri yang sangat kompeten, saya memahami bagaimana kita bisa mengelola turats untuk kemajuan khazanah keilmuan di masa depan, khususnya di pesantren," pungkasnya.
Selain digitalisasi, pemerintah juga mendorong para pemilik naskah untuk mendaftarkan koleksi yang dimiliki. Registrasi serta pemberian nomor dan sertifikat kepemilikan menjadi bentuk perlindungan terhadap naskah sekaligus pengakuan atas kepemilikan masyarakat terhadap warisan intelektual tersebut.
Editor : SRTVRedaksi