Oleh Nonot Sukrasmono
Dalam kultur warga NU (Nahdliyin), friksi dan perbedaan pandangan adalah hal yang lumrah, namun perpecahan adalah hal yang harus dihindari. Ketika kontestasi mengerucut pada dua faksi besar yang saling berhadapan keras, kultur NU selalu melahirkan mekanisme pertahanan mandiri.
Di sinilah Poros Tengah hadir sebagai jembatan budaya. Kehadirannya mencegah terjadinya polarisasi ekstrem yang dapat merusak tenun sosial kemasyarakatan di akar rumput.
Poros Tengah merepresentasikan watak asli pesantren: teduh, merangkul, dan mengutamakan maslahat bersama di atas kepentingan kelompok.
Pelembagaan Nilai Tawasuth dan Islah
Secara sosiologis, Poros Tengah adalah pengejawantahan dari nilai tawasuth (mengambil jalan tengah) yang menjadi pilar khittah NU.
Kultur NU sangat menghormati musyawarah mufakat (syura). Ketika jalur musyawarah buntu akibat benturan dua kepentingan besar, Poros Tengah muncul sebagai ruang alternatif untuk melakukan islah (rekonsiliasi).
Ini bukan tentang figur yang kompromistis tanpa prinsip, melainkan kultur kepemimpinan yang menolak tunduk pada ego politik sekuler dan memilih setia pada garis spiritualitas organisasi.
Menjaga Marwah Kiai dan Pesantren
Sebagai konsep budaya, Poros Tengah bertindak sebagai jangkar penyeimbang agar PBNU tidak terseret terlalu jauh ke dalam arus pragmatisme politik praktis.
Kandidat dari Poros Tengah biasanya membawa narasi kembalinya khittah pesantren, penguatan ekonomi warga, dan kemandirian organisasi.
Dengan menolak berpihak pada faksi yang bertikai, Poros Tengah menjaga marwah para kiai sepuh agar tidak terjebak dalam pusaran dukung-mendukung yang bising, sehingga NU tetap menjadi rumah besar yang nyaman bagi seluruh golongan.
Simbol Kedewasaan Berorganisasi
Kehadiran Poros Tengah membuktikan bahwa kebudayaan NU memiliki daya adaptasi dan resolusi konflik yang matang.
Kultur ini mengajarkan bahwa kemenangan dalam kontestasi PBNU tidak diukur dari hancurnya faksi lawan, melainkan dari seberapa utuh organisasi ini setelah kompetisi selesai.
Poros Tengah adalah pengingat kultural bahwa siapapun yang memimpin, ia adalah pelayan umat (khadimul ummah) yang harus berdiri di atas semua golongan, menjaga tradisi lama yang baik, dan mengambil inovasi baru yang lebih baik (al-muhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdu bil jadidil ashlah).
Penulis adalah Praktisi Budaya, pendidik, seniman dan Pembina LESBUMI PWNU JATIM.
Editor : SRTVRedaksi