NGANJUK, SRTV.CO.ID - Aroma wangi santan yang berpadu dengan daun salam dan serai menyeruak dari sebuah dapur di kawasan Loceret, Nganjuk. Di atas kompor, sebuah panci besar berisi bubur beras yang sedang diaduk perlahan hingga mengental sempurna.
Bagi masyarakat Jawa khususnya Bumi Bayu Anjuk Ladang, hidangan ini bukanlah menu sarapan biasa, melainkan Bubur Suro, sajian sakral yang wajib hadir setiap kali lembaran kalender berganti memasuki Malam 1 Suro atau 1 Muharram dalam penanggalan Islam.
"Bubur Suro ini bukan sekadar kuliner biasa untuk mengganjal perut, melainkan media refleksi, rasa syukur, dan doa bersama demi keselamatan di tahun yang baru," ujar Iza, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Perumahan Tanjung Green Regency, Sukorejo, Loceret, Nganjuk. Selasa (16/6)
Bagi Iza, meracik Bubur Suro sudah menjadi ritual tahunan yang tak boleh terlewatkan. Tradisi ini memiliki akar sejarah yang sangat panjang.
Konon, kebiasaan memasak bubur khusus ini sudah mengakar kuat sejak zaman pemerintahan Sultan Agung di masa Kesultanan Mataram Islam, di mana akulturasi budaya Jawa dan nilai-nilai Islam mulai tumbuh subur.
"Tradisi ini sudah mengakar kuat sejak zaman pemerintahan Sultan Agung di Kesultanan Mataram Islam," ungkap ibu dua anak yang juga pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Al Karimi, Tebuwung, Gresik tersebut.
Ada kedalaman makna di balik semangkuk atau sepiring Bubur Suro. Hidangan ini merepresentasikan wujud syukur atas berkah keselamatan hidup, sekaligus simbol doa agar setahun ke depan diberi kelancaran dan kesejahteraan.
Namun yang tak kalah penting adalah aspek sosialnya. Bubur Suro tidak dibuat untuk dinikmati sendiri, melainkan wajib dibagikan kepada tetangga sekitar untuk mempererat tali silaturahmi antar warga.
"Setiap 1 Suro atau Muharam, saya selalu membuat bubur suro ini. Rasanya sangat gurih karena dimasak menggunakan santan dan berbagai rempah, seperti daun salam serta serai," jelas Iza mengenai rahasia kelezatan hidangannya.
Berbeda dengan bubur ayam pada umumnya, Bubur Suro khas Jawa Timuran tampil lebih meriah dan kaya rasa. Setelah bubur yang gurih matang, hidangan ini diguyur dengan kuah kaldu ayam berwarna kuning pekat yang kaya rempah.
Tak berhenti di situ, daya tarik utama Bubur Suro terletak pada aneka lauk pendamping atau topingnya yang melimpah ruah, melambangkan kemakmuran dan hasil bumi yang berkecukupan.
"Untuk lauk pendampingnya saya kasih kacang, irisan telur dadar tipis (rawis), perkedel kentang dan suwiran ayam," urai Iza mendetail.
Sebagai pelengkap akhir, hidangan ini diberi sentuhan sambal goreng kering tempe teri atau sambal goreng tahu. Tak lupa, taburan segar dari irisan daun seledri dan cabai merah tanpa biji disematkan di atasnya sebagai hiasan estetik yang mempercantik tampilan.
Lewat semangkuk Bubur Suro, masyarakat tidak hanya kenyang secara fisik, tetapi juga terpenuhi secara spiritual. Di tengah modernisasi, konsistensi perempuan seperti Iza di Nganjuk membuktikan bahwa warisan leluhur dan nilai-nilai kebersamaan masih tetap lestari, sesendok demi sesendok.
Editor : SRTVRedaksi