NGANJUK, SRTV.CO.ID — Bagi masyarakat Jawa, bulan Suro atau 1 Muharram bukan sekadar pergantian tahun dalam penanggalan. Bulan ini dianggap sangat sakral, sarat makna spiritual, serta menjadi momen penting untuk introspeksi diri dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta.
“Bulan Suro adalah waktu keramat untuk menyucikan batin, mengendalikan hawa nafsu, serta memohon keselamatan dan keberkahan. Intinya menjadi pengingat agar selalu eling lan waspodo — ingat asal-usul, ingat Tuhan, dan waspada terhadap segala godaan,” ujar Bopo Boniman, sesepuh sekaligus pelaku seni asal Kaloran, Ngronggot, Nganjuk, Selasa (16/6/2026).
Sebagai bulan yang dikeramatkan, Suro identik dengan suasana keprihatinan. Masyarakat diajak untuk menahan diri dari kesenangan duniawi yang berlebihan. Ini adalah momen krusial untuk mengendalikan hawa nafsu, mengurangi hura-hura, dan lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui laku spiritual.
Menurut pria yang juga aktif dalam kesenian jaranan atau seni kuda lumping ini, aspek penting bagi orang Jawa di bulan ini meliputi "Bulan Prihatin" dan "Waktu Eling lan Waspodo" sebuah momentum untuk selalu ingat akan asal-usul dan Tuhan, serta waspada terhadap segala godaan dan marabahaya.
Momen puncak kesakralannya terjadi pada Malam 1 Suro. Secara turun-temurun, masyarakat melakukan tirakatan, berdoa, dan bermunajat sepanjang malam sebagai wujud keprihatinan dan permohonan perlindungan.
"Ya seperti tadi malam. Orang Jawa biasanya melakukan tirakatan (tidak tidur semalaman), berdoa, dan bermunajat," tambah Bopo Boniman mengenai tradisi kuat yang dilakukan masyarakat umum pada malam pergantian tahun tersebut.
Di samping ritual keagamaan dan budaya, bulan Suro juga diselimuti oleh berbagai mitos dan pantangan yang masih dipegang teguh oleh sebagian besar masyarakat.
Larangan-larangan ini dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap kesakralan bulan, sekaligus upaya menolak bala.
Bopo Boniman menjelaskan bahwa selama bulan Suro, terdapat sejumlah pantangan kuat seperti, tidak menggelar hajatan, terutama pernikahan, karena dipercaya akan membawa kesialan bagi pengantin.
"Tidak membangun atau pindah rumah, serta tidak keluar rumah pada malam 1 Suro kecuali untuk tujuan ibadah atau kegiatan spiritual." Jelasnya
Melalui perpaduan antara doa, tirakat, dan kepatuhan terhadap tradisi, bulan Suro tetap menjadi kompas spiritual bagi masyarakat Jawa untuk memulai lembaran tahun yang baru dengan hati yang bersih dan mawas diri.
Editor : SRTVRedaksi