Kolaborasi Lintas Batas di Lobi Kampus, Rayakan 30 Tahun, Sabda Theatre Suguhkan Sastra hingga Tari Banyuwangi

Reporter : Ahmad Zaki Mawardi
Puncak acara : Pementasan teater berjudul "Kuning", karya seniman teater kampus Surabaya, Mohamad Nizar Rahmanto (SRTV)

SURABAYA, SRTV.CO.ID — Jam dinding di lobi depan Gedung UIN Sunan Ampel Surabaya 2 baru menunjukkan pukul 12.00 WIB ketika puluhan mahasiswa mulai sibuk membongkar muatan. Mereka tidak sedang bersiap merdemonstrasi, melainkan sedang berkejaran dengan waktu. Pihak fakultas hanya memberikan izin penggunaan lokasi selama sembilan jam saja untuk sebuah perayaan besar: Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre.

Sembilan jam terdengar mustahil untuk membangun sebuah ruang pertunjukan dari nol. Namun, keterbatasan itu justru memicu adrenalin dan kreativitas yang luar biasa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Fakultas Adab dan Humaniora ini.

"Meskipun bukan gedung pertunjukan resmi, teras lobi kampus berhasil disulap menjadi ruang teater yang representatif dan memukau melalui kerja kolektif yang mengingatkan kita pada legenda Roro Jonggrang," ungkap salah satu panitia di sela-sela kesibukan. 

Seluruh kru, pemain, dan pendukung acara melebur dalam gotong royong yang rapi, memastikan setiap detail artistik rampung sebelum lampu panggung dinyalakan tepat pukul 18.00 WIB.

Tepat saat matahari terbenam, tirai imajiner dibuka. Sebagai pembuka, gemulai Tari Milu Sarju asal Banyuwangi menghentak pelataran. Tarian ini bukan sekadar pemanis, melainkan sebuah simbol rasa syukur dan ketekunan hidup yang membuahkan hasil—sebuah analogi yang pas untuk menggambarkan napas Sabda Theatre yang berhasil bertahan hingga tiga dekade.

Suasana semakin magis ketika puncak acara menyuguhkan pementasan teater berjudul "Kuning", karya seniman teater kampus Surabaya, Mohamad Nizar Rahmanto.

"Naskah Kuning mengisahkan perjalanan seorang gadis muda yang meninggalkan rumah demi mengejar kemakmuran, namun terjebak dalam ambisi dan tipu daya sosok misterius bernama Panji," jelas Siti Zahrotul Janah, Ketua Sabda Theatre yang sekaligus bertindak sebagai sutradara pementasan. 

Pertunjukan ini sukses melempar perenungan mendalam kepada penonton tentang arti kebijaksanaan dan ketulusan kasih sayang keluarga yang kerap terlupakan.

Parade estetika malam itu tidak berhenti pada seni peran. Panggung lobi kampus berganti rupa menjadi mimbar sastra saat puisi-puisi perlawanan Wiji Thukul dibacakan oleh Dewi, disusul oleh bait-bait magis WS Rendra yang disuarakan lantang oleh para alumni.

Menying Lucas, salah satu penampil senior, bahkan memperkenalkan istilah "Merendra" sebuah gerakan kultural untuk mengajak generasi muda kembali membaca dan menghidupkan roh karya-karya WS Rendra agar tetap relevan melintasi zaman. 

Malam itu juga menjadi saksi runtuhnya sekat-sekat akademik melalui kolaborasi pembacaan puisi "Tanpa Judul" oleh mahasiswa lintas prodi, mulai dari Sastra Indonesia, Sastra Inggris, hingga Sejarah Peradaban Islam.

Di balik riuh tepuk tangan penonton yang memenuhi lobi, ada kesadaran emosional bahwa mempertahankan teater kampus di era digital bukanlah perkara mudah.

"Tantangan terbesar saat ini yang saya rasakan adalah menjaga semangat berkesenian dan regenerasi komunitas. Namun, perubahan ini justru mendorong kami untuk terus beradaptasi dan berkembang," tutur Siti Zahrotul Janah saat ditemui usai acara.

Siti menambahkan bahwa ruang digital dan kolaborasi kreatif anak muda Surabaya saat ini sebenarnya memberikan peluang besar agar karya teater bisa menjangkau pemirsa yang lebih luas.

Melalui tema "Alur Asa", perayaan ini berhasil mengunci esensi eksistensi mereka: merawat alur tradisi dari para pendahulu, sekaligus menjaga asa agar tetap optimis menatap masa depan. Ketika jam menunjukkan pukul 21.00 WIB, lobi kampus kembali senyap, namun jejak magis pertunjukan itu telah tinggal menetap. 

Tiga puluh tahun telah berlalu, dan Sabda Theatre membuktikan bahwa selama kecintaan pada seni itu merawat ingatan, maka harapan tidak akan pernah padam.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru