Ratusan Hektar Padi di Nganjuk Diserbu Wereng Menjelang Panen, Petani Merugi Miliaran

Reporter : Boniman
Kondisi hamparan padi di Kecamatan Pace, Nganjuk, yang mengering dan rusak parah akibat serangan masif hama Wereng Batang Coklat menjelang masa panen (Mr. SRTV)

NGANJUK,SRTV.CO.ID – Nasib apes menimpa ratusan petani di wilayah Kecamatan Pace, Kabupaten Nganjuk. Menjelang masa panen yang seharusnya menjadi momen penuh suka cita, ratusan hektar tanaman padi di wilayah tersebut justru mengalami kerusakan parah akibat serangan masif hama Wereng Batang Coklat (WBC). Akibatnya, para petani kini dihantui ancaman gagal panen massal.

"Naasnya, saat padi sudah berumur dan siap dipanen, tanaman padi kami malah diserang hama," keluh Samuri, salah satu petani asal Desa Jatigreges, Kecamatan Pace, dengan nada lesu saat ditemui pada Selasa (2/6/2026).

Serangan hama wereng kali ini tergolong sangat ganas dan cepat meluas. Berdasarkan informasi di lapangan, luasan lahan yang terdampak telah mencapai ratusan hektar. 

Dari jumlah tersebut, puluhan hektar di antaranya bahkan dipastikan mengalami gagal panen total akibat tanaman padi yang mengering dan mati sebelum bulir padi terisi sempurna.

Menurut Samuri, kondisi di lapangan saat ini sudah sangat mengkhawatirkan karena serangan hama wereng di wilayah Pace dinilai telah merajalela dan sulit dikendalikan

Dampak ekonomi dari bencana pertanian ini sangat memukul dapur para petani. Produktivitas lahan yang biasanya melimpah kini merosot drastis. 

Rata-rata petani di Kecamatan Pace dipastikan mengalami kerugian hingga mencapai 50% akibat penurunan hasil panen yang sangat signifikan tersebut.

"Para petani sebenarnya sudah berupaya keras menyemprotkan berbagai macam obat-obatan anti hama, tapi sampai sekarang belum berhasil menjinakkan wereng tersebut," tambah petani setempat yang pasrah melihat kondisi sawahnya.

Demi menyelamatkan sisa-sisa tanaman yang masih bisa diselamatkan, sebagian petani terpaksa mengambil langkah nekat dengan melakukan panen dini. 

Meski kualitas gabah yang dihasilkan dipastikan menurun dan harganya anjlok di pasaran, langkah ini dinilai menjadi satu-satunya pilihan rasional daripada harus kehilangan seluruh modal tanam mereka. 

Kini, para petani Pace hanya bisa berharap adanya turun tangan dan bantuan nyata dari dinas terkait untuk mengatasi wabah yang kian mencekik ini.

Editor : SRTVRedaksi

Hukum
Berita Terpopuler
Berita Terbaru